RELUNG.ID – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sumatera Selatan mendorong percepatan hilirisasi komoditas kelapa dengan memperkuat akses pembiayaan di seluruh rantai ekosistem, mulai dari petani hingga industri pengolahan dan pasar.
Langkah tersebut didukung potensi kelapa Sumatera Selatan yang cukup besar. Saat ini, luas perkebunan kelapa di Sumsel mencapai sekitar 68 ribu hektare dengan produksi lebih dari 61 ribu ton. Kabupaten Banyuasin menjadi salah satu wilayah yang dikenal sebagai sentra utama komoditas kelapa.
Kepala Direktorat Pengawasan PUJK, EPK, LMST OJK Sumatera Selatan, Tito Adji Siswanto, mengatakan pengembangan komoditas kelapa dilakukan melalui pendekatan ekosistem closed loop.
Konsep tersebut mengintegrasikan petani dan kelompok tani dengan industri pengolahan, eksportir, lembaga jasa keuangan hingga pasar.
“Melalui sinergi ini, akses pembiayaan tidak berhenti pada petani, tetapi menjangkau seluruh mata rantai usaha, mulai dari produktivitas, pengolahan, investasi hingga pemasaran dan ekspor,” kata Tito, Kamis (25/9/2026).
Menurut Tito, dukungan pembiayaan yang telah disalurkan dalam ekosistem closed loop komoditas kelapa di Sumatera Selatan saat ini mencapai Rp185,88 miliar.
Ia berharap penguatan akses keuangan tersebut dapat menjadi salah satu pendorong masuknya investasi sekaligus mempercepat hilirisasi komoditas kelapa di Sumsel.
“Kami berharap penguatan akses keuangan ini dapat menjadi daya tarik bagi hilirisasi dan peningkatan nilai tambah komunitas kelapa Sumatera Selatan,” ujarnya.
Dorongan hilirisasi tersebut mengemuka dalam Musyawarah Nasional (Munas) II Perhimpunan Petani Kelapa Indonesia (Perpekindo) yang mengusung tema “Akselerasi dan Sinergi Pengembangan Komunitas Kelapa melalui Akses Keuangan”.
Forum tersebut menjadi momentum untuk memperkuat pengembangan komunitas kelapa secara terintegrasi, baik di sektor hulu maupun hilir. Sejumlah aspek yang menjadi perhatian meliputi peningkatan produktivitas, percepatan hilirisasi, penguatan kelembagaan, akses pembiayaan hingga perluasan pasar.
Plt Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Selatan, M. Ichwansyah, mengatakan pengembangan komoditas kelapa perlu diarahkan dari sekadar produksi bahan mentah menuju hilirisasi dan industrialisasi.
Menurutnya, potensi kelapa Sumsel tidak hanya berasal dari buah dan kopra. Berbagai bagian tanaman kelapa masih dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang berpotensi mendorong pertumbuhan industri baru.
“Karena itu, pengembangan kelapa harus dibangun dalam satu ekosistem industri dari hulu hingga hilir. Dengan demikian, investasi dan hilirisasi yang tumbuh diharapkan memberikan kepastian pasar, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan ekonomi yang diterima petani,” jelasnya.
OJK Sumsel berharap Munas II Perpekindo menghasilkan rumusan kerja yang konkret untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, industri jasa keuangan, Perpekindo, pelaku usaha, eksportir dan pemangku kepentingan lainnya. (CKM)

