RELUNG.ID – Kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) mulai dikeluhkan pengguna jalan saat memasuki wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
Keluhan tersebut mulai dari jarak pandang saat berkendara hingga menyebabkan area mata menjadi perih.
Berdasarkan pantauan, kabut asap mulai nampak sejak sore hari sekitar pukul 16.00 WIB hingga pukul 08.00 WIB. Asap tebal terlihat sejak memasuki area masuk kawasan Kabupaten OKI (Tugu Gading) hingga kawasan sepucuk.
Diansyah (35), warga Desa Pedamaran mengatakan, ganguan jarak pandang bagi dirinya dan pengendara lainnya dapat menyebabkan kecelakaan.
“Mata juga rasanya perih, kalau tidak pakai kacamata mudah sekali terkena iritasi,” kata Diansyah, Kamis (27/8/2026).
Menurut Diansyah, sejumlah kawasan di Kabupaten OKI sudah dikepung asap. Padahal, kabut asap tampak tidak terlalu tebal di hari Senin (24/8) lalu.
“Pagi hari saya ke arah Indralaya, kabut asapnya masih sangat pekat. Kalau sore ke arah Kayuagung juga sama,” ujarnya.
Hal senada juga diutarakan Johan (52), pengendara truk yang melintas di kawasan Kabupaten OKI. Ia mengaku rute perjalanannya, Palembang-Lempuing kini terganggu akibat kabut asap.
“Jelas mengganggu sekali, saya harus mengendarai truk dengan pelan dan ekstra hati-hati,” ucapnya.
Terkait kabut asap yang melanda kawasan Kabupaten OKI, pihak BPBD Kabupaten OKI mengaku, karhutla di Kabupaten OKI tahun 2026 ini cukup parah.
Saat ini, Kabupaten OKI sedang dikepung api akibat karhutla. Hal tersebut menyebabkan sembilan kecamatan di Kabupaten OKI terdampak karhutla, yakni Kecamatan Kayuagung, Tanjung Lubuk, Pedamaran Timur, Pangkalan Lampam, Tulung Selapan dan Cengal.
Sekretaris BPBD OKI, Nova Triyusanto mengatakan, untuk di Kecamatan Kayuagung saja tercatat lebih kurang 23 hektar lahan yang terbakar sejak tanggal 3 Agustus 2026.
“Lahan yang terbakar di wilayah Kecamatan Kayuagung yakni di kawasan Sepucuk. Seluas 23 hektar lahan terbakar di wilayah Kedaton, dan Kotaraya,” kata Nova.
Nova menjelaskan, sejak Januari hingga 27 Agustus 2026, pihaknya mencatat sebanyak 3384 titik hotspot. Sedangkan untuk firespot, pihaknya mencatat sebanyak 264 kejadian.
Nova juga menjelaskan, musim kemarau dan angin kencang menjadi faktor meluasnya karhutla di Kabupaten OKI.
Selain itu, Satgas Karhutla OKI juga memiliki kendala pemadaman di lapangan yang disebabkan sulitnya sumber air di lokasi dan juga sulitnya akses menuju lokasi firespot.
“Belum lagi minimnya anggaran bencana karhutla dan juga keterbatasan personil di lapangan, otomatis juga menambah kesulitan kami untuk menanggulangi karhutla tahun ini,” ujarnya.
Nova menambahkan, saat ini petugas BPBD bersama Manggala Agni, TNI, Polri dan Damkar tengah berjuang setiap hari memadamkan lahan yang terbakar di seluruh wilayah Kabupaten OKI. (HWJ)

