RELUNG.ID – OpenAI mengumumkan langkah besar ke ranah perangkat keras dengan akuisisi penuh saham senilai $6,5 miliar atau sekitar Rp105 triliun atas “io”, startup AI milik desainer ternama Jony Ive.
Kesepakatan ini yang menjadi akuisisi terbesar dalam sejarah OpenAI yang diharapkan rampung akhir musim panas 2025, setelah memperoleh persetujuan dari otoritas regulator.
Menurut perjanjian, seluruh 55 karyawan “io” akan bergabung dengan tim OpenAI untuk mempercepat pengembangan perangkat bertenaga kecerdasan buatan.
Kolaborasi resmi ini menandai puncak kerja sama dua tahun antara OpenAI dan “io” anak perusahaan LoveFrom yang didirikan Ive pada 2019 bersama mantan insinyur Apple Scott Cannon, Evans Hankey, dan Tang Tan.
CEO OpenAI, Sam Altman, dalam video pengumuman berdurasi hampir 10 menit, mengungkapkan visi bersama Ive untuk menciptakan “keluarga perangkat” baru yang melengkapi laptop dan smartphone.
“Kami percaya inovasi Desain dan AI harus berjalan beriringan,” kata Altman.
Laporan Wall Street Journal menyebut produk pertama yang dihasilkan dari sinergi ini akan berupa “perangkat berukuran saku, sadar secara kontekstual, dan tanpa layar.”
Perangkat tersebut bukan kacamata pintar maupun wearable konvensional, melainkan alat otonom yang mampu memahami lingkungan sekitar dan memberikan informasi secara real time. Pengembangan direncanakan selesai untuk peluncuran pada 2026.
Sebagai bagian dari proses transisi, OpenAI dan tim “io” akan memfokuskan diri pada integrasi R&D, produksi, dan desain industrial.
Menurut sumber internal, OpenAI akan memanfaatkan jaringan manufaktur mitranya termasuk fasilitas prototipe di Amerika Serikat dan Asia untuk mewujudkan ambisi “perangkat ketiga” yang nyaman dibawa dan mudah beradaptasi dengan ekosistem digital pengguna.
Dengan akuisisi ini, OpenAI menegaskan ambisinya tidak hanya sebagai pionir layanan AI berbasis cloud, tetapi juga sebagai produsen perangkat keras yang memadukan kekuatan software dan desain premium.
“Menghadirkan AI di balik produk nyata akan mempercepat aksesibilitas teknologi canggih ke tangan masyarakat luas,” tutup Altman. (LWM)

