RELUNG.ID – Pasar smartphone atau ponsel pintar global mengalami tekanan sepanjang kuartal II 2026.
Kenaikan harga komponen memori menjadi salah satu faktor yang mendorong penurunan pengiriman perangkat baru secara global.
Berdasarkan laporan FDM CCS Insight, pengiriman ponsel pintar global pada kuartal II 2026 turun 7 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Angka tersebut juga turun sekitar 3 persen dibandingkan kuartal I 2026.
Tekanan terhadap pasar diperkirakan belum akan berakhir dalam waktu dekat. FDM memproyeksikan pengiriman ponsel pintar global sepanjang 2026 akan mengalami penurunan sekitar 12 persen.
Penurunan paling terasa terjadi di negara-negara berkembang. Pasar seperti Eropa dan Amerika Utara masih mencatat penurunan relatif terbatas, yakni dalam kisaran satu digit rendah.
Sebaliknya, konsumen di negara berkembang cenderung lebih sensitif terhadap kenaikan harga sehingga dampaknya terhadap permintaan perangkat baru menjadi lebih besar.
Di tengah melemahnya pasar ponsel baru, pasar perangkat bekas justru menunjukkan tren positif. Laporan FDM mencatat penjualan ponsel bekas tumbuh 3 persen secara tahunan.
Pertumbuhan pasar sekunder tersebut bahkan diperkirakan semakin kuat hingga akhir 2026. FDM memproyeksikan penjualan ponsel bekas akan tumbuh sekitar 9 persen sepanjang tahun ini.
Konsumen dinilai mulai beralih ke perangkat rekondisi karena menawarkan harga yang lebih terjangkau dibandingkan membeli ponsel baru. Perubahan perilaku tersebut semakin terlihat ketika harga perangkat baru mengalami kenaikan.
FDM mencatat harga rata-rata ponsel pintar baru pada kuartal II 2026 meningkat 13 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Kenaikan tersebut salah satunya dipicu oleh lonjakan harga memori akibat kelangkaan pasokan secara global.
Kondisi tersebut diperkirakan masih akan berlanjut. FDM memperkirakan harga ponsel baru akan terus mengalami kenaikan pada paruh kedua 2026, yang berpotensi semakin mendorong konsumen mempertimbangkan perangkat bekas atau rekondisi.
Meski demikian, pasar sekunder juga mulai menghadapi tantangan. Tingginya permintaan yang tidak sepenuhnya diimbangi ketersediaan perangkat membuat harga ponsel rekondisi ikut mengalami kenaikan secara bertahap.
Salah satu faktor yang memengaruhi pasokan adalah menurunnya aktivitas tukar tambah ponsel di Amerika Serikat. Kondisi tersebut menyebabkan jumlah perangkat yang masuk ke pasar sekunder berkurang.
Namun, kekurangan pasokan tersebut sebagian masih dapat ditekan oleh tingginya ekspor perangkat bekas dari China dan Jepang ke pasar lainnya.
Dengan kondisi tersebut, pasar ponsel pintar pada 2026 menghadapi situasi yang cukup berbeda. Penjualan perangkat baru tertekan oleh kenaikan harga komponen dan meningkatnya harga jual, sementara pasar ponsel bekas justru mendapatkan momentum dari konsumen yang mencari alternatif lebih ekonomis. (LWM)

