RELUNG.ID – Fenomena sound horeg, yaitu penggunaan sistem suara ekstrem dengan volume tinggi dalam acara hiburan rakyat, terus menjadi sorotan publik.
Di tengah pro dan kontra yang berkembang, pendakwah dan mantan musisi metal Ustaz Derry Sulaiman menawarkan pandangan unik sekaligus solusi konstruktif.
Ustaz Derry menegaskan bahwa persoalan utama dari sound horeg bukanlah teknologinya, melainkan penggunaan volume suara yang berlebihan, yang bisa berdampak buruk pada kesehatan dan lingkungan sekitar.
“Sound itu netral, tapi ketika digunakan sampai 135 desibel, itu bisa menyebabkan kerusakan. Saya nonton band metal seperti Slipknot, mereka saja membatasi di angka 100 sampai 109 desibel,” ujarnya dalam sebuah pernyataan, Kamis (24/7/2025).
Menurut Derry, tingkat kebisingan 135 desibel seperti yang dilaporkan dalam sejumlah acara sound horeg berpotensi menimbulkan tuli permanen, bahkan bisa menyebabkan kerusakan bangunan dan gangguan pada bayi maupun lansia.
Hal inilah yang, menurutnya, menjadi dasar fatwa haram dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait penggunaan sound horeg secara ekstrem.
“Saya yakin MUI tidak mengharamkan sound-nya, tapi penggunaan volumenya yang ekstrem itu. Yang bisa bikin genteng rontok, jantungan, bahkan bahaya buat bayi,” tegasnya.
Alih-alih melarang total penggunaan sound horeg yang menurutnya bisa mematikan sumber penghasilan banyak orang Ustaz Derry mengusulkan adanya regulasi tegas, terutama terkait batas volume dan lokasi penyelenggaraan.
“Kalau memang ini dianggap hiburan, ya jangan di tengah kampung. Pindahkan ke lapangan terbuka atau stadion, dan batasi volumenya. Kalau sudah lebih dari 100 desibel, itu sebaiknya diharamkan,” ujarnya.
Lebih dari sekadar kritik, Ustaz Derry melontarkan gagasan “hijrah sound horeg” yakni mengajak para pemilik dan operator sound horeg untuk mengalihkan keahliannya ke masjid dan tempat ibadah.
“Harga sound horeg itu bisa ratusan juta rupiah. Bayangkan kalau semua dialihkan ke masjid, kualitas suara azan dan ceramah pasti jadi jauh lebih baik. Ini bentuk hijrah yang nyata,” katanya.
Menurutnya, kualitas sound system di banyak masjid masih belum optimal. Akibatnya, suara azan atau khutbah yang seharusnya menyejukkan, justru terdengar sumbang atau cempreng.
“Ada teman saya suaranya merdu banget, tapi karena pakai toa yang jelek, jadi cempreng. Harusnya orang dengar azan naik iman, ini malah naik darah,” ungkapnya.
Dengan ide ini, Ustaz Derry berharap komunitas sound horeg bisa menjadi bagian dari syiar Islam, meningkatkan kualitas pengalaman beribadah umat Muslim, sekaligus mengurangi potensi konflik sosial akibat kebisingan.
“Bayangkan kalau masjid-masjid kita punya sound system sekelas konser profesional, tentu dakwah dan azan akan lebih menyentuh hati umat. Ini bukan soal gaya, tapi soal kualitas syiar,” pungkasnya.
Ustaz Derry pun mengajak seluruh pihak termasuk pemerintah, tokoh masyarakat, dan komunitas sound system untuk duduk bersama mencari jalan tengah.
Dia percaya bahwa dengan regulasi, edukasi, dan niat baik, potensi sound system yang saat ini digunakan secara berlebihan bisa diubah menjadi kekuatan yang positif untuk masyarakat. (vid)

