RELUNG.ID – Kasus dugaan perundungan terhadap seorang siswi SMP Negeri di Kota Palembang terus menjadi perhatian. Di tengah proses penanganan yang dilakukan pihak sekolah dan kepolisian, orang tua korban berharap sekolah mengambil langkah tegas agar anaknya dapat kembali belajar dengan rasa aman.
Leni, ibu dari siswi berinisial AL (13), menegaskan tidak ingin putrinya menjadi pihak yang harus menanggung dampak berkepanjangan dengan berpindah sekolah. Menurutnya, AL telah merasa nyaman bersekolah dan saat ini telah memasuki kelas IX.
“Saya tidak mau anak saya yang pindah sekolah. Dia sudah nyaman di sini dan sekarang sudah kelas sembilan. Kalau pindah, nanti dia harus beradaptasi lagi,” ujar Leni, Jumat (10/7/2026).
Sebaliknya, Leni berharap pihak sekolah memberikan sanksi tegas terhadap siswi berinisial SN (12) yang diduga menjadi pelaku perundungan. Ia mengaku masih dihantui kekhawatiran peristiwa serupa dapat kembali terjadi apabila keduanya tetap berada di lingkungan sekolah yang sama.
“Saya minta pelaku dikeluarkan dari sekolah ini. Saya takut kejadian seperti ini terulang lagi,” katanya sembari menahan tangis.
Menurut Leni, perundungan yang dialami putrinya tidak hanya meninggalkan trauma psikologis, tetapi juga menyebabkan sejumlah luka fisik. Korban mengaku mengalami nyeri di bagian kepala setelah rambutnya dijambak serta sakit di bagian perut akibat tendangan yang diterimanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa putrinya sempat hampir didorong ke dalam parit saat insiden berlangsung. Korban disebut berhasil menahan tubuhnya sehingga tidak terjatuh, meski telapak tangannya mengalami luka akibat bertumpu di bibir parit.
“Anak saya bilang pelaku sempat mau mendorongnya ke parit. Dia bertahan supaya tidak jatuh,” tuturnya.
Leni menambahkan, sebelum dugaan perundungan terjadi, putrinya sempat menerima ancaman agar datang ke sekolah. Korban mengaku diberitahu bahwa dirinya akan tetap dicari apabila tidak hadir.
“Anak saya bilang kalau tidak datang ke sekolah, hari Senin dia tetap akan dicari. Karena itu dia datang. Ternyata setelah bertemu langsung dibully,” ungkapnya.
Peristiwa tersebut, lanjut Leni, diduga direkam menggunakan telepon genggam oleh pelaku dengan bantuan rekannya. Saat kejadian berlangsung, terdapat beberapa siswa lain di lokasi, namun tidak ada yang berupaya menghentikan aksi tersebut.
“Saya sedih melihat anak saya diperlakukan seperti itu. Ada beberapa teman pelaku di sana, tetapi tidak ada satu pun yang menolong anak saya. Mereka hanya melihat kejadian itu,” katanya.
Meski keluarga korban telah mengikuti proses mediasi yang difasilitasi pihak terkait, Leni berharap penyelesaian kasus tidak berhenti pada mediasi semata. Ia meminta sekolah memastikan lingkungan belajar yang aman sehingga putrinya dapat menjalani kegiatan belajar tanpa rasa takut saat tahun ajaran baru dimulai.[THQ]

