RELUNG.ID — Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat Sumatra Selatan (Sumsel) merasakan udara pagi yang lebih dingin dari biasanya. Fenomena ini dipicu oleh tutupan awan yang menghalangi masuknya sinar matahari untuk menghangatkan permukaan tanah.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, menegaskan kondisi tersebut masih tergolong normal dan bukan merupakan anomali cuaca.
“Suhu dingin ini fenomena biasa, karena sejak Senin wilayah Sumsel rata-rata tertutup awan,” jelasnya, Rabu (20/8/2025).
Menurutnya, pada musim kemarau, intensitas radiasi matahari yang mencapai permukaan tanah memang berkurang. Akibatnya, udara sekitar tidak terlalu hangat. “Pada malam hari, sisa energi radiasi matahari terlepas ke atmosfer sehingga pada pagi hari suhu udara terasa lebih rendah,” tambahnya.
Meski berada pada periode kemarau, hujan ringan hingga sedang masih berpotensi turun di sejumlah wilayah Sumsel. BMKG memprediksi peluang hujan akan terjadi pada dasarian II hingga III Agustus 2025. Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap cuaca ekstrem yang bisa muncul sewaktu-waktu, seperti hujan mendadak disertai petir dan angin kencang.
“Sebagian besar wilayah Sumsel diprediksi berpeluang lebih dari 70 persen mengalami curah hujan rendah (0–50 mm). Namun, beberapa daerah seperti Pagaralam bagian timur, OKU Selatan barat, sebagian kecil Lahat, OKU barat, Muara Enim barat, dan MURATARA utara masih berpeluang lebih dari 60 persen mengalami curah hujan menengah,” ungkap Wandayantolis.
Selain itu, ia juga mengingatkan agar masyarakat tetap menjaga kesehatan, mengantisipasi peningkatan titik panas, serta memperhatikan kebersihan lingkungan.[THQ]

