RELUNG.ID-Kondisi kabut asap yang menyelimuti Palembang belakangan ini tidak hanya menjadi persoalan di lapangan, tetapi juga bahan sindiran di media sosial.
Sebuah unggahan Reels di Instagram menjadi ramai setelah memperlihatkan sekelompok anak muda Palembang mengenakan pakaian lengkap seperti hendak mendaki gunung, berada di kawasan Jembatan Ampera dalam suasana yang tampak berkabut.
Dalam unggahan yang dibagikan akun salah satu selebgram Palembang, @ubeyapsensoo, puluhan anak muda tersebut terlihat berkumpul dan berpose sambil meneriakkan kata “Enjoy!”
Unggahan itu kemudian dipenuhi komentar bernada satire yang menyinggung kondisi udara dan situasi Palembang.
Salah satu komentar akun @jezahabbr menulis: “ENJOYY LENGGGG KUAT KITO APO KUAT ASAP ITU EEDAK🔥.” Komentar tersebut kemudian dibalas @ubeyapsensoo: “Kuat la wong pocok leng😭👊”
Komentar lain dari akun @plgthriftshop ikut menyentil suasana dalam video. “Gilo ubey setara sm awan apo ituu.. Dingin nian caknyo disitu bey.”
Balasan @ubeyapsensoo kembali membawa kata yang tengah ramai diperbincangkan: “dingin banget leng tp man la sampe pocok enjoy kok❤️”
Rangkaian komentar tersebut memperlihatkan bagaimana kondisi kabut asap diterjemahkan warganet melalui humor dan bahasa khas Palembang. Kata “enjoy”, yang beberapa hari terakhir ramai dalam percakapan di jagat maya, justru berubah menjadi bahan sindiran untuk menggambarkan situasi yang dianggap kontras dengan kondisi udara yang sedang dihadapi warga.
Video dan komentar di akun selebgram yang kerap kali peduli dengan berbagai isu sosial di Palembang itu, dinilai menunjukkan bahwa ketika persoalan lingkungan menjadi perhatian publik, respons warga di media sosial tidak selalu muncul dalam bentuk keluhan langsung.
Pakar Komunikasi Dr. Rahma Santhi Zinaida mengatakan fenomena tersebut dapat dibaca sebagai bentuk komunikasi satire yang merupakan bentuk sindiran terhadap pemerintah.
Menurutnya, satire muncul ketika terdapat jarak antara kondisi ideal dengan realitas yang dirasakan masyarakat. Dalam konteks kabut asap, humor dan candaan di media sosial justru menjadi cara warga menyampaikan keresahan terhadap kondisi yang mereka alami.
Justru dia menilai komunikasi Walikota yang masih enjoy karena kabut asap. Diangap Komunikasi nir empati yang menunjukkan ketidakmampuan atau keengganan seseorang untuk memahami, merasakan, dan menghargai perasaan, situasi, serta kebutuhan lawan bicaranya .
“Komunikasi Wali Kota itu nir empati karena dia tidak memikirkan akal sehat dan perasaan masyarakat. Seharusnya sebagai kepala daerah dia berpikir terlebih dahulu sebelum melontarkan sesuatu,” kata Rahma.
Menurutnya, sebagai opinion leader, Wali Kota menjadi sosok yang pernyataannya mendapat perhatian publik. Karena itu, setiap ucapan harus disampaikan secara bijaksana, terutama ketika masyarakat sedang menghadapi persoalan yang berdampak langsung terhadap kehidupan mereka.
“Walikota itu sebagai opinion leader sudah pasti semua disorot. Kalau dia paham, seharusnya seorang kepala daerah itu bisa memilih kata-kata dengan bijaksana. Kalau tak mampu lebih baik diam karena itu lebih bagus,” ujarnya.
Ia menilai pemerintah daerah seharusnya lebih banyak menunjukkan tindakan nyata dalam menangani kabut asap. Pernyataan yang dianggap sensitif terhadap kondisi masyarakat justru berpotensi memperlebar jarak antara pemerintah dan warga.
Rahma menilai penggunaan kata “enjoy” oleh Wali Kota dalam situasi kabut asap kemudian berkembang menjadi satire karena dianggap tidak sejalan dengan kondisi yang dirasakan masyarakat.
“Enjoy yang diungkapkan wali kota itu sama saja dengan membakar api dengan minyak. Ketika masyarakat sedang merasakan dampak kabut asap, pilihan kata seperti itu justru bisa memancing reaksi,” tegasnya.
Menurutnya, seorang pemimpin tidak cukup hanya menunjukkan kemampuan mengelola pemerintahan, tetapi juga harus mampu membangun empati dengan masyarakat.
Empati tersebut, kata Rahma, dapat ditunjukkan melalui komunikasi dan gestur kepemimpinan yang menggambarkan bahwa kepala daerah memahami serta merasakan keresahan warganya.
“Meskipun dia tidak mengalami dampak langsung dari kabut asap, dia harus menunjukkan bahwa dirinya juga ikut terdampak dan tetap bekerja dalam kondisi tersebut,” jelasnya.
Menurut Rahma, komunikasi semacam itu penting agar masyarakat merasa pemerintah berada di sisi mereka ketika menghadapi persoalan.
“Empati itu bisa ditunjukkan dengan cara yang beragam sepert drama (drama turgi). Pemimpin harus mengerti dan mengikuti apa yang diinginkan masyarakat. Yang disasar adalah hati masyarakat, bagaimana menunjukkan bahwa pemerintah hadir dan peduli,” katanya.
Lebih jauh, Rahma menilai persoalan kabut asap dan karhutla tidak tepat jika beban persoalan diarahkan kepada masyarakat. Pemerintah, menurutnya, memiliki kendali melalui kebijakan dan regulasi.
“Kalau berbicara kabut asap dan karhutla yang terjadi saat ini, sudah pasti jangan salahkan masyarakat ataupun perusahaan saja. Pemerintah punya kendali melalui kebijakan. Aturan dan regulasi sudah ada, tinggal bagaimana ditegakkan,” pungkasnya. [YSF]

