RELUNG.ID- Krisis pasokan gas LPG 3 kilogram dalam beberapa hari terakhir membuat puluhan warga Desa Lawang Agung, Kecamatan Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) rela mengantri panjang di pangkalan gas.
Antrean ini terjadi setiap kali gas LPG masuk ke pangkalan, di mana warga langsung berdatangan untuk mendapatkan gas bersubsidi yang kini sulit didapatkan di warung-warung kelontong.
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa begitu gas LPG tiba, warga langsung mengantre untuk membelinya. Setiap warga hanya diperbolehkan membeli satu tabung gas untuk memastikan distribusi merata.
Wati (52), salah satu warga setempat, mengungkapkan bahwa ia lebih memilih mengantri di pangkalan meski harus menunggu lama, karena harga gas LPG di warung jauh lebih mahal, mencapai Rp 35.000 hingga Rp 38.000 per tabung. Sedangkan harga gas di pangkalan jauh lebih terjangkau, membuatnya lebih memilih menunggu.
“Ya dek kami tidak masalah antri untuk dapatkan gas, karena harganya murah daripada beli di warung yang mahal,” ujar Wati saat ditemui pada Selasa (4/2/2025).
Wati juga meminta kepada pemerintah untuk lebih mengawasi harga gas LPG yang dijual di warung, yang kerap mematok harga lebih tinggi dari harga normal.
“Kami minta untuk diawasi harga gas di warung-warung, sebab harganya mahal,” tambahnya.
Rusdi, pemilik pangkalan gas LPG, menyatakan bahwa antrean panjang seperti ini sebenarnya jarang terjadi. Namun, karena sulitnya mendapatkan gas, banyak warga yang memilih untuk mengantre di pangkalan. Untuk mengatur distribusi, Rusdi memastikan bahwa setiap pembeli hanya boleh membeli satu tabung gas.
“Kita layani semua yang mau beli, tapi satu orang hanya bisa beli satu tabung gas. Ini agar distribusi gas bisa merata,” jelas Rusdi.
Rusdi juga menambahkan bahwa ada perubahan dalam distribusi gas LPG, di mana gas tidak lagi masuk ke pangkalan pada tanggal merah atau hari libur. Hal ini berbeda dengan kondisi sebelumnya, di mana gas tetap tersedia meskipun di hari libur atau tanggal merah.
“Kalau sekarang, gas tidak masuk kalau tanggal merah atau hari libur. Dulu, meskipun libur, gas tetap masuk,” pungkasnya.[ALA]

