RELUNG.ID – Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mulai terasa di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang.
Hingga Minggu (6/9/2026) pukul 10.25 WIB, sedikitnya 18 penerbangan dari dan menuju Bandara SMB II dibatalkan.
Pembatalan ini terjadi setelah operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, sempat ditutup sementara akibat indikasi sebaran abu vulkanik.
Pgs General Manager Bandara SMB II Palembang, Tubagus Gemal Syahir, mengatakan seluruh penerbangan yang terdampak terhubung dengan rute Soekarno-Hatta.
“Sehubungan dengan erupsi Anak Gunung Krakatau yang mengakibatkan penutupan sementara Bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta, pada hari Minggu terdapat 18 penerbangan dari dan menuju Bandara SMB II mengalami pembatalan,” ujar Tubagus.
Pembatalan tersebut mencakup penerbangan sejak pagi hingga sore hari. Jadwal yang terdampak berada pada rentang keberangkatan sekitar pukul 06.00 hingga 15.45 WIB.
Dari Palembang menuju Jakarta, sejumlah penerbangan yang dibatalkan di antaranya Super Air Jet IU 921, Sriwijaya Air SI 7296 rute Palembang-Pangkalpinang, Pelita Air IP 311, Batik Air ID 7054 tujuan Halim Perdanakusuma, Garuda Indonesia GA 107, Citilink QG 987, Super Air Jet IU 923, Citilink QG 985, Garuda Indonesia GA 109, Pelita Air IP 313 dan Garuda Indonesia GA 113.
Sementara dari Jakarta menuju Palembang, penerbangan yang dibatalkan meliputi Garuda Indonesia GA 102, Pelita Air IP 310, Super Air Jet IU 922, Citilink QG 984, Garuda Indonesia GA 104, Pelita Air IP 312 dan Garuda Indonesia GA 108.
Daftar tersebut masih bersifat sementara. Pihak bandara menegaskan jumlah penerbangan terdampak dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi erupsi dan keputusan masing-masing maskapai.
Tubagus mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan maskapai dan sejumlah instansi terkait untuk menangani penumpang yang terkena dampak pembatalan maupun penundaan.
“Kami mengimbau masyarakat yang akan bepergian melalui Bandara SMB II untuk terus memantau jadwal penerbangannya dan berkoordinasi dengan pihak maskapai guna memastikan jadwal penerbangan,” katanya.
Menurutnya, aspek keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan operasional penerbangan di tengah kondisi vulkanik yang masih berkembang.
“Keselamatan penumpang dan kru pesawat menjadi perhatian utama. Kami terus berkoordinasi dengan seluruh stakeholder terkait perkembangan kondisi dan penerbangan yang terdampak,” tegas Tubagus. (KPB)

