RELUNG.ID – Pemerintah Indonesia terus berkomitmen mendukung pengembangan industri kelapa sawit secara berkelanjutan. Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa kebijakan yang diterapkan tidak hanya menciptakan keseimbangan pasar domestik dan internasional, tetapi juga mendorong hilirisasi produk kelapa sawit nasional.
“Kami terus menjaga keseimbangan pasar sambil mendorong hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah produk kelapa sawit Indonesia,” ujar Budi, Jumat (20/12).
Dalam perdagangan global, Indonesia menjadi eksportir utama split fatty acid dengan pangsa pasar 40,97%, serta crude glycerine dengan pangsa pasar 32,02%. Nilai ekspor kedua produk ini pada periode Januari–September 2024 mencapai USD 1,05 juta, meningkat 6,91% dibandingkan tahun sebelumnya.
India menjadi pasar utama untuk kedua produk ini. Baru-baru ini, Indonesia melepas ekspor sepuluh kontainer Oleochemicals senilai USD 420 ribu (Rp 6,75 miliar) ke India, yang dilakukan di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
Produk ini diproduksi oleh PT VVF Indonesia, anak perusahaan dari grup VVF India, yang berkomitmen meningkatkan investasi di Indonesia.
Oleochemicals memiliki beragam aplikasi, termasuk pangan yakni Minyak goreng dan margarin, kosmetik Pelembab dan sabun, Farmasi Obat-obatan, Energi Biodiesel, Kimia Pembersih dan pelarut.
Budi Santoso menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah dan swasta untuk memaksimalkan potensi kelapa sawit sebagai komoditas strategis nasional. Dukungan ini diberikan melalui kebijakan dan kemudahan akses pasar, termasuk dalam perjanjian perdagangan internasional.
“Pelepasan ekspor ini merupakan bukti nyata sinergi antara pemerintah dan sektor swasta untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” tambahnya.
Dengan langkah ini, pemerintah optimis industri kelapa sawit tidak hanya menjadi tulang punggung ekspor, tetapi juga memainkan peran penting dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan di Indonesia.[TRA]

