RELUNG.ID — Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) memulai langkah strategis dengan mengujicobakan kurikulum Muatan Lokal (Mulok) Pangan Lokal di 34 sekolah, terdiri dari 17 SMA dan 17 SMK. Program ini diharapkan menjadi solusi inovatif dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan mendukung ketahanan pangan daerah.
Peluncuran uji coba ini ditandai dengan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) dan pengukuhan guru pelopor di Palembang. Acara tersebut dihadiri oleh Plt. Kepala Dinas Pendidikan Sumsel, Awalluddin, yang menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas guru dan kepala sekolah dalam menerapkan kurikulum baru.
“Kurikulum ini mengajarkan siswa tentang potensi pangan lokal yang melimpah di Sumsel. Dengan edukasi ini, generasi muda diharapkan mampu memahami dan memanfaatkan sumber daya lokal sebagai upaya menjaga ketahanan pangan di tengah ancaman perubahan iklim,” ujar Awalluddin, Rabu (22/1/2025).
Inisiatif ini muncul di tengah meningkatnya dampak perubahan iklim di Sumsel, seperti bencana hidrometeorologi dan kebakaran hutan. Edukasi tentang pangan lokal dianggap sebagai langkah kunci untuk memastikan ketahanan pangan masyarakat.
“Kami ingin siswa memahami bahwa pangan lokal tidak hanya terbatas pada beras atau nasi. Ada banyak bahan pangan lain yang bisa menjadi solusi menghadapi krisis,” kata Andre Ekadinata, Direktur Utama ICRAF Indonesia.
Program ini merupakan hasil kerja sama antara Dinas Pendidikan Sumsel dan ICRAF Indonesia melalui proyek Land4Lives, yang didukung oleh pemerintah Kanada. Proyek ini bertujuan membantu masyarakat beradaptasi terhadap perubahan iklim melalui peningkatan pemanfaatan pangan lokal.
Meski menjanjikan, implementasi kurikulum ini tidak lepas dari tantangan. Salah satu kendala utama adalah penyamaan pemahaman guru tentang konsep pangan lokal dan metode pengajarannya.
“Kami memastikan guru memiliki pemahaman yang seragam agar siswa benar-benar memahami potensi pangan lokal di sekitar mereka. Ini adalah pekerjaan besar yang membutuhkan kolaborasi,” jelas Andre.
Sebelumnya, tim pengembang kurikulum telah menyusun bahan ajar dan modul yang dirancang khusus untuk daerah Sumsel. Selama uji coba pada semester genap ini, dari Februari hingga Mei 2025, tim akan memantau dan mengevaluasi efektivitas pelaksanaannya sebelum diterapkan lebih luas.
Implementasi kurikulum Mulok Pangan Lokal diharapkan tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga keterampilan praktis bagi siswa dalam mengidentifikasi dan memanfaatkan sumber pangan di sekitar mereka.
“Kami ingin generasi mendatang lebih mandiri dan siap menghadapi tantangan perubahan iklim. Kurikulum ini menjadi salah satu langkah penting untuk mewujudkan ketahanan jangka panjang,” tambah Awalluddin.[AYK]

