RELUNG.ID – Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Askolani, melaporkan bahwa penerimaan dari bea masuk mengalami penurunan sebesar 5,8 persen pada kuartal I tahun 2025 dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Nilai bea masuk tercatat sebesar Rp 11,3 triliun, dengan penurunan terbesar disebabkan oleh turunnya impor sejumlah komoditas, seperti beras dan gula pasir.
“Pada 2024, masih ada impor yang dilakukan oleh Bulog, tetapi di 2025 kuota tersebut tidak diberikan lagi. Akibatnya, tidak ada penerimaan bea masuk dari kegiatan impor tersebut,” jelas Askolani dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Rabu (7/5/2025).
Secara rinci, nilai impor beras pada kuartal I 2025 hanya sebesar Rp 61,7 miliar, mengalami penurunan drastis hingga 93,4 persen dibandingkan tahun lalu. Hal ini menyebabkan realisasi bea masuk dari komoditas tersebut turun hingga 92,1 persen.
Sementara itu, impor gula pasir tercatat sebesar Rp 499 miliar, turun 33,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini turut memengaruhi realisasi bea masuk gula pasir yang turun sebesar 16,7 persen.
Di sisi lain, impor kendaraan bermotor, khususnya kendaraan listrik (EV), menunjukkan peningkatan signifikan. Nilai impor kendaraan listrik mencapai Rp 1,64 triliun, naik 45,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, penerimaan bea masuk dari kendaraan listrik justru turun 10,5 persen karena insentif pembebasan bea masuk yang diberikan oleh pemerintah.
“Kendaraan listrik mendapatkan tarif bea masuk sebesar nol persen sebagai bagian dari kebijakan insentif pemerintah. Meski volume impor kendaraan meningkat, bea masuknya tetap lebih rendah dibandingkan tahun 2024,” ungkap Askolani.[THQ]

