RELUNG.ID – Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan kabar baik sekaligus tantangan besar dalam peta literasi keuangan Indonesia. Meski tingkat literasi keuangan nasional meningkat, terdapat kesenjangan mencolok antara laki-laki dan perempuan, dengan perempuan justru mengalami penurunan.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, memaparkan bahwa indeks literasi keuangan laki-laki mencapai 67,32 persen, naik 3,18 persen dari tahun sebelumnya. Namun, indeks perempuan menurun 1,17 persen menjadi 65,58 persen.
“Ini menjadi perhatian serius, terutama mengingat berbagai program inklusi keuangan yang sebenarnya menargetkan perempuan sebagai segmen utama,” ujar Friderica, yang akrab disapa Kiki, dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jumat (2/5).
Di sisi lain, tingkat inklusi keuangan perempuan tetap bersaing dengan laki-laki. Survei mencatat indeks inklusi keuangan laki-laki berada di angka 80,73 persen, sementara perempuan mencapai 80,28 persen. Keduanya menunjukkan peningkatan, masing-masing sebesar 6,76 persen dan 4,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain gender, survei juga mengungkap kesenjangan literasi berdasarkan wilayah dan tingkat pendidikan. Indeks literasi di perkotaan tercatat 70,89 persen, jauh di atas wilayah perdesaan yang hanya mencapai 59,60 persen. Sementara itu, masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah, seperti yang belum tamat SD, memiliki indeks literasi 43,20 persen, jauh di bawah mereka yang tamat perguruan tinggi dengan indeks mencapai 90,63 persen.
“Pekerjaan juga memengaruhi tingkat literasi. Kelompok profesional, pengusaha, dan pensiunan mencatat angka tertinggi, sementara petani, peternak, dan nelayan berada di level terendah,” tambah Kiki.
OJK bersama Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DNKI) terus berupaya memperluas cakupan program edukasi, dengan fokus pada kelompok perempuan, masyarakat perdesaan, dan pekerja informal. Namun, hasil survei ini menyoroti perlunya pendekatan baru yang lebih efektif dan tepat sasaran, terutama bagi segmen-segmen yang masih tertinggal.
“Kesenjangan ini bukan hanya soal angka, tapi juga akses yang belum merata terhadap informasi dan edukasi keuangan. Ini adalah tantangan besar yang perlu diatasi untuk menciptakan ekosistem keuangan yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkas Kiki.
Dengan hasil survei ini, OJK berharap dapat merumuskan kebijakan yang lebih adaptif untuk memastikan literasi keuangan terus meningkat di seluruh lapisan masyarakat.[THQ]

