Tekad kuat ini juga membawanya untuk menempuh pendidikan di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Di sana, ia berhasil menyelesaikan studi dengan predikat cumlaude di Fakultas Psikologi, dengan IPK 3,56.
Fatia menyelesaikan kuliahnya dalam waktu 3 tahun 8 bulan—sebuah pencapaian luar biasa, mengingat ia juga harus beradaptasi dengan lingkungan baru sebagai penyandang disabilitas.
Meski berhasil dalam akademik, Fatia mengaku selalu memendam keinginan menjadi polisi sejak kecil. Namun, ia menyadari kondisinya yang berbeda membuat impian itu terasa jauh. Hingga suatu hari, Fatia menemukan informasi tentang rekrutmen Bintara Polri jalur disabilitas melalui media sosial.
“Saya tahu peluang ini dari Instagram. Awalnya saya pikir tidak mungkin, tapi ternyata Polri membuka jalan untuk kami yang difabel.” terangnya.
Dengan semangat dan dukungan penuh dari keluarganya, Fatia pun mencoba peruntungannya. Hasilnya, dia dan satu rekan sesama penyandang disabilitas, Novita Fajrin, berhasil lolos seleksi ketat dan akan mengikuti pendidikan Bintara di Sepolwan RI, Ciputat, Jakarta Selatan.
Bagi Fatia, ini bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi juga kemenangan bagi semua penyandang disabilitas yang sering kali dipandang sebelah mata. Dengan semangat dan dukungan penuh dari keluarganya, Fatia membuktikan bahwa impian tidak mengenal batas fisik.
Dia berharap kisahnya dapat menginspirasi banyak orang untuk terus berjuang meski dihadapkan pada keterbatasan.

