RELUNG.ID – Xiaomi resmi bergabung dalam gelombang produsen kendaraan listrik (EV) yang menawarkan subsidi kepada pelanggan.
Langkah tersebut diambil menyusul perubahan kebijakan pajak kendaraan energi baru (New Energy Vehicle/NEV) di Tiongkok yang akan berlaku mulai tahun depan.
Subsidi ini bermula dari kebijakan baru pemerintah Tiongkok mengenai pajak pembelian NEV. Pada Juni 2023, pemerintah memperpanjang kebijakan insentif populer ini selama empat tahun untuk mendorong adopsi kendaraan listrik secara masif. Namun, skema insentif tersebut akan berangsur dikurangi.
Untuk tahun 2024 dan 2025, pembeli masih mendapatkan pembebasan pajak penuh. Namun, Mulai tahun 2026 hingga 2027, keringanan tersebut berkurang menjadi setengahnya.
Perubahan ini menimbulkan masalah baru, jika mobil yang dipesan pada 2025 baru dikirim pada 2026, pembeli bisa terpaksa membayar pajak tambahan hingga belasan ribu yuan.
Tingginya permintaan terhadap kendaraan listrik populer membuat waktu tunggu semakin panjang. Penundaan produksi sekecil apa pun dapat memindahkan jadwal pengiriman melewati batas tahun, yang berisiko membuat pembeli kehilangan hak atas insentif pajak penuh.
Karena itu, Xiaomi EV menawarkan asuransi pajak berupa kompensasi finansial bagi pelanggan mereka yang terdampak.
Perusahaan mengumumkan bahwa pelanggan yang memesan kendaraan listrik sebelum 30 November 2025 akan dilindungi dari potensi kerugian akibat perubahan pajak.
Jika keterlambatan produksi dari pihak Xiaomi menyebabkan pengiriman baru dilakukan pada 2026, Xiaomi akan memberikan subsidi hingga RMB 15.000, setara dengan potensi kenaikan pajak maksimum.
Program ini berlaku untuk seluruh lini kendaraan listrik Xiaomi, termasuk sedan SU7, SU7 Ultra, dan YU7.
Metode kompensasi yang ditawarkan Xiaomi bersifat sederhana: subsidi akan diberikan sebagai potongan tunai langsung pada pembayaran akhir kendaraan.
Langkah ini dinilai sebagai strategi untuk meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus mendorong penjualan menjelang akhir tahun. (LWM)

