RELUNG.ID – Kota Palembang sejak abad ke-19 telah memiliki jaringan sungai yang sangat padat. Fakta itu terekam jelas dalam peta Kota Palembang tahun 1877 yang kini menjadi salah satu rujukan penting untuk menelusuri sejarah perkembangan kota tertua di Indonesia tersebut.
Sejarawan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Dr. Kemas Abdul Rachman Panji, S.Pd., M.Si., mengatakan peta-peta kolonial membuktikan bahwa Palembang tumbuh dan berkembang di atas jaringan sungai yang menjadi fondasi utama kehidupan masyarakat sejak masa lampau.
“Peta-peta kolonial menjadi bukti kuat bahwa Palembang dibangun di atas jaringan sungai yang menjadi fondasi perkembangan kota sejak masa lampau,” ujar Kemas Ari Panji saat menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Menghimpun Kembali Sejarah 114 Sungai di Kota Palembang yang digelar Koalisi Kawali Indonesia Lestari (KAWALI) Sumatera Selatan di Ruang Rapat Dinas PUPR Kota Palembang, Jumat (10/7/2026).
Menurutnya, peta tahun 1877 mencatat banyak nama sungai yang hingga kini masih dikenal masyarakat. Di kawasan Ilir, di antaranya terdapat Sungai Musi, Sungai Rengas, Sungai Kaligawe, Sungai Tahi, Sungai Lawang Kidul, hingga Sungai Belabak.
Sementara di wilayah Seberang Ulu, tercatat Sungai Ogan, Sungai Goren, Sungai Pasintren, Sungai Saudagar Kucing, Sungai Kemenduran, Sungai Kedukan, serta sejumlah sungai lainnya yang pernah menjadi bagian penting dari sistem transportasi dan kehidupan masyarakat Palembang.
Kemas Ari menjelaskan, arsip sejarah dan peta-peta lama memiliki peran strategis dalam mengungkap perubahan bentang sungai yang terjadi dari waktu ke waktu. Melalui dokumen tersebut, perkembangan kawasan perkotaan dapat ditelusuri secara ilmiah.
“Melalui penelusuran arsip dan peta sejarah, kita dapat mengetahui bagaimana perubahan bentang sungai terjadi. Informasi ini penting sebagai dasar pelestarian sejarah sekaligus referensi dalam pengelolaan lingkungan perkotaan,” katanya.
Ia mengungkapkan, meski sebagian nama sungai masih bertahan hingga sekarang, tidak sedikit alur sungai yang mulai hilang akibat perubahan tata ruang kota, penyempitan badan sungai, sedimentasi, hingga pesatnya pembangunan.
Kondisi tersebut, kata dia, menjadi alasan kuat pentingnya pendokumentasian sejarah sungai agar masyarakat memahami bahwa sungai bukan hanya saluran air, melainkan bagian dari identitas dan perjalanan panjang peradaban Palembang.
“Sungai telah membentuk peradaban Palembang selama berabad-abad. Melalui kajian sejarah yang berbasis arsip, peta, dan sumber-sumber ilmiah, kita berharap lahir kesadaran bersama bahwa melestarikan sungai berarti menjaga memori kolektif, identitas budaya, sekaligus masa depan Kota Palembang,” tegasnya. (KPB)

