RELUNG.ID-Kenaikan harga Crude Palm Oil (CPO) di pasar global yang dipicu memanasnya tensi geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, ternyata belum memberikan dampak signifikan bagi petani sawit di daerah.
Di Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan, harga Tandan Buah Segar (TBS) masih terpantau stabil dan belum menunjukkan lonjakan berarti. Kondisi ini membuat para petani belum sepenuhnya merasakan “angin segar” dari kenaikan harga di tingkat internasional.
Berdasarkan pantauan di lapangan, harga beli TBS di tingkat pengepul masih berada di kisaran yang relatif stagnan.
Yanto, salah satu petani sawit di Desa Pancurmas, mengaku baru saja menjual hasil panennya dengan harga Rp2.600 per kilogram.
“Belum lama ini saya jual ke pengepul kecil seharga Rp2.600 per kg. Untuk pengepul besar saya kurang tahu, mungkin ada selisih,” ujarnya.
Menurutnya, harga sawit di tingkat petani tidak hanya dipengaruhi tren global, tetapi juga sangat bergantung pada kualitas buah yang ditentukan melalui proses sortir oleh pengepul.
“Biasanya pengepul cek dulu kualitas buah sebelum menentukan harga,” jelasnya.
Yanto berharap kenaikan harga CPO global tidak hanya menjadi kabar di pasar internasional, tetapi juga benar-benar berdampak pada harga beli di tingkat petani.
Pasalnya, biaya produksi dan perawatan kebun sawit terus meningkat, mulai dari harga pupuk hingga ongkos tenaga kerja.
“Harapannya harga sawit bisa naik lagi. Karena untuk mengurus kebun itu butuh biaya besar, dari pupuk sampai upah pekerja,” tutupnya. [SLM]

