RELUNG.ID – Peternak ayam petelur di Sumatera Selatan mulai menghadapi tekanan akibat beredarnya telur ayam dengan harga sangat murah melalui platform aplikasi online.
Harga yang ditawarkan dalam program bundling bahkan disebut jauh di bawah harga telur di tingkat peternak.
Berdasarkan informasi yang beredar, telur dalam program tersebut ditawarkan dengan harga mulai Rp2.500 hingga Rp7.500 per kilogram. Sementara itu, harga telur di tingkat peternakan saat ini berada di kisaran Rp25.740 per kilogram.
Ketua Asosiasi Perunggasan Provinsi Sumatera Selatan, Ismaidi, mengatakan penjualan dengan harga murah tersebut merupakan bagian dari aktivitas bisnis pelaku usaha.
Namun, harga yang terlalu rendah dikhawatirkan memengaruhi persepsi konsumen terhadap harga telur di pasaran.
“Ini tentunya sangat berpengaruh terhadap pengusaha telur. Masyarakat akhirnya meminta harga murah, sementara kami sebagai pengusaha menjual telur rata-rata Rp25.740 per kilogram,” ujar Ismaidi, Rabu (9/9/2026).
Menurut Ismaidi, kondisi tersebut semakin berat karena peternak saat ini juga menghadapi persoalan arus kas. Sejumlah kandang disebut mulai kesulitan mempertahankan cash flow, bahkan sebagian peternak mulai mempertimbangkan untuk menjual usaha atau kandangnya.
Meski menghadapi berbagai tekanan, pihaknya tetap berupaya menjaga harga telur agar usaha peternakan ayam petelur di Sumsel dapat terus berjalan.
Ismaidi menyebut produksi telur di Sumatera Selatan saat ini mencapai sekitar 500 ton per hari. Sekitar 30 persen dari produksi tersebut dikirim ke luar daerah, terutama untuk memenuhi kebutuhan pasar di Pulau Jawa dan Bangka.
“Untuk kebutuhan telur di Sumatera Selatan, sekitar 30 persen produksi kita dikeluarkan ke luar provinsi, seperti Jawa dan Bangka. Produksi kita sendiri rata-rata mencapai 500 ton per hari,” jelasnya.
Tekanan terhadap peternak tidak hanya berasal dari harga jual telur. Kondisi cuaca yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir juga turut memengaruhi biaya operasional peternakan.
Kemarau, misalnya, membuat peternak harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan air di kandang. Pada saat yang sama, kondisi tersebut juga dapat menurunkan produktivitas ayam.
“Cuaca juga sangat mempengaruhi cash flow pengusaha telur. Karena kemarau, produksi telur bisa turun sekitar 5 sampai 10 persen,” katanya.
Persoalan lainnya datang dari kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Paparan asap dapat mengganggu kesehatan ayam sehingga peternak harus mengeluarkan biaya tambahan untuk pengobatan.
Gangguan kesehatan tersebut pada akhirnya berpengaruh terhadap produktivitas ayam. Kondisi itu dinilai semakin menekan peternak ketika biaya produksi meningkat, sementara harga jual telur sulit mengikuti kenaikan biaya.
“Kalau asap berdampak terhadap kesehatan ayam, biaya pengobatan membengkak, produksi turun, sementara harga tidak sesuai. Kalau kondisi ini terus terjadi, peternak bisa banyak yang bangkrut,” tutupnya. (CKM)

