RELUNG.ID — Banjir yang merendam sejumlah wilayah di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) belum sepenuhnya berakhir. Meski sebagian genangan mulai surut, ancaman banjir susulan masih membayangi warga di enam kecamatan akibat rusaknya infrastruktur pengendali air dan tingginya intensitas hujan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat wilayah terdampak meliputi Kecamatan Air Sugihan, Lempuing, Lempuing Jaya, Mesuji, Kayu Agung, dan Pedamaran. Genangan terparah dilaporkan terjadi di kawasan permukiman yang berada di sekitar sungai dan rawa.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengungkapkan bahwa kondisi OKI saat ini masih berada dalam fase rawan bencana hidrometeorologi.
“Potensi hujan masih tinggi. Masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan karena banjir dapat kembali meluas,” ujarnya, Minggu (18/1/2026).
Selain faktor cuaca, kerusakan pintu air dan pendangkalan sungai disebut menjadi pemicu utama meluasnya genangan. Di wilayah Kayu Agung, banjir merendam Kelurahan Jua-jua dan Kedaton. Sementara di Kecamatan Pedamaran, sedikitnya enam desa terdampak, yakni Menang Raya, Cinta Jaya, Pedamaran II, Pedamaran III, Pedamaran IV, dan Pedamaran V.
Bupati OKI Muchendi Mahzareki yang turun langsung ke lapangan menemukan sedikitnya empat pintu air dalam kondisi macet sehingga tidak mampu mengalirkan air secara optimal.
“Empat titik pintu air perlu segera diperbaiki karena ini sangat mempengaruhi surutnya genangan,” kata Muchendi.
Dua pintu air di jalur 27 dan 29 akan ditangani oleh PT BAP, sementara sisanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah.
Muchendi menegaskan bahwa meski air mulai surut di beberapa lokasi, masyarakat tetap diminta tidak lengah menghadapi puncak musim hujan yang diperkirakan berlangsung hingga Februari 2026.
“Antisipasi dan mitigasi harus kita lakukan bersama. Gotong royong sangat penting, warga bantu warga,” ujarnya.
Untuk jangka menengah dan panjang, Pemkab OKI menyiapkan langkah normalisasi kanal dan sungai. Menurut Muchendi, penanganan banjir tidak bisa hanya mengandalkan anggaran daerah.
“Ini perlu kolaborasi. Ada perusahaan, Balai Besar, dan pihak terkait lainnya. Normalisasi sungai menjadi kunci agar banjir tidak terus berulang,” tegasnya.[THQ]

