RELUNG.ID- Seorang anggota polisi dari Unit Lantas Polsek Sawah Besar menjadi korban penganiayaan saat mengatur lalu lintas di kawasan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, Kamis (11/9/2025) sore.
Korban berinisial R (29) dipukul oleh pelaku AAF (29), warga Penggilingan, Jakarta Timur, yang belakangan diketahui menderita gangguan jiwa berat.
Peristiwa terjadi sekitar pukul 17.00 WIB di depan Pos Lantas TL Pintu Besi, Jalan Gunung Sahari Raya. Saat itu, R sedang menggantikan rekannya bertugas mengatur arus kendaraan.
Tiba-tiba, seorang pria tak dikenal mendekati dan langsung memukul pipi kiri R dengan tangan kosong hingga menyebabkan memar.
Menurut keterangan kepolisian, insiden berawal saat rekan korban, NH (41), mencoba menghentikan sepeda motor berboncengan tanpa helm dari arah Senen menuju Ancol. Pengendara menghindar hingga kepala pelaku mengenai tangan petugas dan topinya terjatuh.
Pelaku sempat melarikan diri, namun kembali untuk mengambil topinya. Saat itulah ia mendatangi R yang disangka petugas sebelumnya, lalu memukul wajahnya.
Pelaku AAF yang sehari-hari bekerja sebagai tukang parkir diamankan ke Polsek Sawah Besar. Tak lama kemudian, keluarganya menyerahkan dokumen medis berupa hasil visum kejiwaan RS Polri Kramat Jati dan surat rawat inap RS Jiwa Soeharto Heerdjan (RS Grogol).
Hasil pemeriksaan menunjukkan AAF menderita skizofrenia atau gangguan jiwa berat.
Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro, menegaskan pihaknya tetap mengedepankan sisi kemanusiaan dalam kasus ini.
“Kami sangat menghargai pengabdian anggota kami yang sedang bertugas, dan prihatin atas kejadian ini. Namun, kami juga memahami bahwa pelaku ini sedang berjuang dengan kondisi kesehatan mentalnya,” ujarnya, Minggu (14/9/2025).
Menurut Susatyo, pelaku telah dipulangkan untuk mendapatkan perawatan medis yang tepat dengan pengawasan keluarga serta pihak berwenang.
Kapolsek Sawah Besar, Kompol Rahmat Himawan, menyampaikan pihaknya bergerak cepat melakukan olah TKP, mengamankan barang bukti, memeriksa saksi-saksi, serta membawa korban ke RS Polri untuk visum.
“Kami ingin semua pihak merasa aman. Bukan hanya korban, tapi juga pelaku yang dalam kondisi tidak stabil secara psikologis. Empati dan komunikasi dengan keluarga menjadi kunci,” kata Rahmat.
Rahmat menegaskan penyelidikan tetap berjalan sembari menunggu hasil resmi pemeriksaan medis terhadap pelaku.
“Kasus ini menyoroti pentingnya perhatian terhadap isu kesehatan mental dalam proses penegakan hukum. Situasi di lokasi kejadian kini telah kondusif, sementara korban sedang menjalani masa pemulihan,” tandasnya.[YKP]

