RELUNG.ID — Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Tutuka Ariadji, mengungkapkan bahwa hulu migas Indonesia memiliki potensi penyimpanan karbon yang sangat menjanjikan.
Hasil penelitian dari Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi LEMIGAS Kementerian ESDM menunjukkan bahwa terdapat 20 cekungan yang memiliki potensi besar penyimpanan karbon.
Menurut Tutuka, hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa potensi penyimpanan karbon saline aquifer mencapai 572,77 giga ton, sementara potensi dari reservoir minyak dan gas yang telah habis produksinya (depleted) sebesar 4,85 giga ton.
“Data ini akan menjadi fokus untuk terus diperbaharui dan dikembangkan oleh pihak terkait, ” kata dia Jumat (23/2).
Dari 128 cekungan migas yang ada di Indonesia, baru 20 cekungan yang telah diteliti, sedangkan sisanya masih perlu dieksplorasi lebih lanjut. Potensi penyimpanan karbon saline aquifer tersebar di beberapa cekungan, seperti North East Java, Tarakan, North Sumatera, hingga Bawean.
“Terkait dengan karbon lintas batas ke negara lain, kemungkinan ini akan terjadi setelah penerbitan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 14 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Penangkapan dan Penyimpanan Karbon, ” kata dia.
Tutuka menjelaskan bahwa kapasitas domestik untuk penyimpanan karbon tetap menjadi prioritas utama, sementara kapasitas sisanya akan dialokasikan untuk karbon lintas batas dengan syarat-syarat tertentu.
“Proses karbon lintas batas ini akan melibatkan MoU antar negara dan kerja sama B to B (Business to Business) dengan persyaratan bahwa pihak yang menyimpan emisi karbon di Indonesia harus memiliki investasi atau keterkaitan investasi di Indonesia, ” kata dia.
Dengan potensi yang begitu besar, pengelolaan dan pemanfaatan penyimpanan karbon di hulu migas Indonesia menjadi penting untuk mendukung upaya mitigasi perubahan iklim secara global.

