Dalam pameran Seoul International Cafe Show 2022 yang berlangsung 23 hingga 26 November, potensi transaksi kopi Indonesia menembus angka USD4,6 juta atau setara dengan Rp72,33 miliar.
Kementrian Perdagangan melalui perwakilannya Kepala ITPC Busan, Reandhy Putera Dharmawan mengatakan, di hari pertama pameran, antusias masyarakat terhadap Paviliun Indonesia sangat tinggi hingga tercatat potensi transaksi senilai USD4,6 juta.
“Yang menarik perhatian pengunjung yakni kopi serta minuman herbal, dan camilan kafe berupa manisan dari ubi,” katanya, Senin (28/11).
Dalam pameran tersebut, Paviliun Indonesia menampilkan berbagai produk dari 11 pelaku usaha. Serta, menyajikan bazar makanan dan minuman tradisional Indonesia ala angkringan. Bazar ini dikelola Dharma Wanita Persatuan KBRI Seoul sebagai bentuk promosi produk Indonesia kepada konsumen akhir.
“Kami berharap kedepannya tidak hanya kopi, tapi semua komoditas Indonesia yang kami promosikan di Korea Selatan akan menjadi pilihan utama para calon pembeli mancanegara, khususnya Korea Selatan, dan mendorong potensi ekspor Indonesia,” harapnya.
Dia juga menambahkan, pelaku usaha Indonesia yang ikut serta dalam promosi di Korea Selatan ini juga diharapkan mendapatkan pengalaman dan pembelajaran dalam memasuki pasar internasional.
Seperti diketahui, Korea Selatan merupakan salah satu mitra dagang strategis yang menawarkan berbagai potensi bagi Indonesia, mengingat produk domestik bruto dan daya beli masyarakatnya yang tinggi. Menurut data Korea International Trade Association, Korea Selatan merupakan importir kopi Indonesia terbesar ke-14 dengan nilai impor periode Januari–Oktober 2022 senilai USD 12,4 juta. Ada peningkatan signifikan sebesar 66,7 persen dibandingkan periode yang sama tahunsebelumnya.
Nilai impor kopi Indonesia di Korea Selatan selama kurun waktu lima tahun terakhir (2017-2021) juga mengalami tren peningkatan. Potensi pasar kopi di Korea Selatan sangat tinggi. Potensi tersebut dilandaskan oleh beberapa faktor, yaitu konsumsi kopi masyarakatnya merupakan yang tertinggi di dunia, jumlah toko kopi yang meningkat di tiap tahunnya, dan tren positif impor kopi dari dunia.
“Hal ini membuktikan bahwa di tengah resesi ekonomi sebagai akibat dari pandemi Covid-19, Korea Selatan tetap memilih produk Indonesia. Peluang ini yang harus dimanfaatkan oleh para pelaku ekspor Indonesia untuk dapat mengekspansi pasar dan meningkatkan ekspor ke Korea Selatan,” pungkasnya.

