RELUNG.ID – PT Bukit Asam Kreatif (BAK), mitra kerja dari PT Bukit Asam Tbk, memberikan klarifikasi resmi terkait insiden tabrakan dua unit dump truck raksasa Belaz yang terjadi di area tambang Bangko Barat, Senin malam (28/4/2025) sekitar pukul 23.30 WIB.
Insiden tersebut melibatkan unit Belaz RT 38 yang dikemudikan oleh OG (29) dan Belaz RT 05 yang saat itu sedang terparkir dan dikendalikan oleh HMP (29). Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kedua alat berat asal Belarusia tersebut mengalami kerusakan ringan.
Menurut hasil investigasi internal perusahaan, insiden murni disebabkan oleh kelalaian operator OG. Hal ini ditegaskan oleh Direktur PT BAK, Slamet Widodo, melalui Manager Sumber Daya Manusia, Okiki Onedinata.
“Dari penyelidikan internal kami, kejadian ini murni disebabkan oleh kelalaian operator Belaz RT 38. Tidak ada faktor kelelahan ataupun kegagalan sistem. Ini murni kecerobohan individu,” ujar Okiki, Sabtu (12/5/2025).
Bukan Karena Kelelahan, Operator Baru Masuk Setelah Cuti
Menanggapi spekulasi yang sempat berkembang di media sosial tentang faktor kelelahan sebagai penyebab utama, pihak perusahaan membantah tegas. Operator OG diketahui baru kembali bekerja setelah menjalani cuti periodik selama dua minggu, sesuai dengan kebijakan perusahaan setelah 70 hari kerja.
“Bahkan setelah masuk, yang bersangkutan tidak langsung bertugas. Ia harus melewati proses induksi untuk kembali mengenali area kerja. Jadi tidak benar jika disebut karena kelelahan,” jelas Okiki.
Proses induksi tersebut, kata dia, merupakan prosedur standar perusahaan untuk memastikan operator memiliki pemahaman yang utuh terhadap kondisi lapangan yang bisa saja berubah dalam waktu singkat.
Dugaan Penggunaan Narkoba: Terindikasi, Namun Mengundurkan Diri Sebelum Tes Resmi
Pihak perusahaan juga mengungkap bahwa OG sempat menunjukkan indikasi penggunaan narkoba berdasarkan tes urine internal awal. Namun sebelum pemeriksaan lebih lanjut dilakukan di Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Muara Enim, OG telah mengajukan pengunduran diri.
“Begitu ada indikasi, kami segera siapkan rujukan ke BNNK. Tapi belum sempat kami kirim, yang bersangkutan memilih mundur,” terang Okiki.
Meski demikian, perusahaan menegaskan komitmen kuatnya dalam memerangi penyalahgunaan narkoba di lingkungan kerja. PT BAK secara berkala melakukan tes acak, bekerja sama dengan BNN tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada karyawan.
“Kami punya sistem deteksi dini yang kuat, termasuk sensor di lapangan untuk mendeteksi kelelahan operator. Untuk narkoba, setiap karyawan wajib menyertakan surat bebas narkoba saat rekrutmen, dan wajib mengikuti medical check-up berkala,” tambahnya.
Jika terbukti menggunakan narkoba, perusahaan tidak segan memberikan sanksi tegas berupa pemutusan hubungan kerja (PHK), sesuai dengan klausul kontrak yang telah disepakati bersama.
Bantah Isu Pegawai Titipan, Perusahaan Evaluasi Menyeluruh dan Perketat Prosedur
Perusahaan juga membantah isu liar bahwa OG merupakan “pegawai titipan”. Menurut Okiki, proses rekrutmen dilakukan secara terbuka dan transparan, serta merujuk pada standar dari PT Bukit Asam, termasuk syarat pengalaman minimal dua tahun untuk operator alat berat.
“Semua kandidat melalui seleksi profesional. OG sendiri adalah karyawan lama yang direkrut delapan tahun lalu. Apa yang dia lakukan di luar jam kerja tentu di luar tanggung jawab kami,” tegasnya.
Kalaupun memang ada pegawai titipan, maka menurut Okiki perlakuan sejak awal rekrutmen tidak ada perbedaan. Bahkan jika berbuat kesalahan. Meski yang bersangkutan dekat dengan pimpinan, tetap diberikan sanksi yang maksimal sesuai dengan peraturan perusahaan.
Terkait ini, Okiki juga mengakui jika sebelum open rekrutmen dilakukan, pihaknya melakukan sosialisasi ke sejumlah desa, dan pemberitahuan/laporan ke Dinas tenaga kerja ME.
Sebagai tindak lanjut atas insiden ini, PT Bukit Asam Kreatif melakukan evaluasi menyeluruh dan memperketat seluruh prosedur keselamatan kerja. Protokol kerja, sistem induksi, serta pengawasan operator akan ditingkatkan demi menghindari kejadian serupa.
“Kami sangat menyesalkan kejadian ini. Namun ini juga menjadi momentum untuk memperkuat sistem pengawasan dan keselamatan kami. Evaluasi sedang kami lakukan secara menyeluruh,” tutup Okiki. (KPB)

