RELUNG.ID – Pemerintah mulai menjalankan strategi baru untuk mempercepat pemerataan pendidikan berkualitas melalui program Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT). Program ini hadir sebagai jawaban atas masih terbatasnya akses masyarakat terhadap sekolah menengah dengan mutu pendidikan yang baik di berbagai daerah.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Muhammad Qodari, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dunia pendidikan Indonesia saat ini bukan sekadar membangun sekolah baru, melainkan memastikan kualitas pendidikan dapat dinikmati secara merata oleh seluruh anak Indonesia.
Menurut Qodari, hingga kini baru sekitar 4 persen kecamatan di Indonesia yang memiliki Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan capaian mutu pendidikan yang tergolong baik. Kondisi tersebut menjadi alasan pemerintah mendorong pendekatan baru dalam pemerataan layanan pendidikan.
“Karena itu, diperlukan percepatan pemerataan mutu pendidikan, bukan hanya melalui pembangunan fisik sekolah, tetapi juga dengan memperkuat ekosistem pembelajaran di daerah,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (28/7/2026).
Sebagai solusi, pemerintah menghadirkan Sekolah Nasional Terintegrasi yang menggabungkan jenjang SMP dan SMA dalam satu sistem pembelajaran berkelanjutan. Melalui model ini, peserta didik akan mengikuti kurikulum nasional dengan pendekatan pembelajaran mendalam berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics) yang dipadukan dengan penguatan bidang olahraga.
Tidak hanya berfokus pada akademik, SNT juga dirancang untuk memberi ruang lebih luas bagi siswa dalam mengembangkan karakter, minat, bakat, serta potensi diri sejak dini.
Berbeda dengan konsep sekolah berasrama, SNT diselenggarakan secara gratis tanpa fasilitas asrama. Pemerintah berharap model ini memungkinkan peserta didik memperoleh pendidikan berkualitas tanpa harus meninggalkan lingkungan keluarga karena sekolah berada lebih dekat dengan tempat tinggal mereka.
Lebih dari sekadar institusi pendidikan, SNT juga diposisikan sebagai pusat pengembangan kualitas pendidikan di daerah. Sekolah ini diharapkan mampu meningkatkan kompetensi guru melalui berbagai pelatihan, berbagi praktik pembelajaran terbaik, memanfaatkan sumber belajar bersama, hingga membangun kemitraan dengan sekolah-sekolah di sekitarnya.
Pada tahun ajaran 2026/2027, pemerintah mulai mengoperasikan SNT di 17 kabupaten dan kota yang tersebar di 13 provinsi. Daerah tersebut meliputi Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Jepara, Kabupaten Gowa, Kabupaten Bone Bolango, Kabupaten Donggala, Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Kupang, Kabupaten Buton Tengah, Kabupaten Tebo, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Kota Tarakan, Kota Tidore Kepulauan, Kota Subulussalam, serta Ibu Kota Nusantara (IKN).
Penerimaan peserta didik baru dibuka untuk siswa kelas VII SMP dan kelas X SMA. Selama pembangunan kampus permanen berlangsung, kegiatan belajar mengajar akan memanfaatkan lokasi sementara yang telah disiapkan pemerintah.
Qodari menjelaskan, pendaftaran diprioritaskan bagi calon peserta didik yang berasal dari kabupaten atau kota lokasi penyelenggaraan SNT. Proses seleksi dilakukan melalui verifikasi administrasi dan tes skolastik sesuai petunjuk teknis yang berlaku.
Seluruh proses pendaftaran dilakukan secara daring melalui portal resmi SNT. Pemerintah juga meminta dinas pendidikan dan satuan pendidikan di daerah untuk aktif memberikan pendampingan kepada masyarakat yang mengalami kendala dalam proses pendaftaran.[THQ]

