Close Menu
relung.idrelung.id
  • Relung Community
  • Indeks
  • Regional
  • Hukum
  • Politik
  • Bola
  • Bisnis
  • Techno
  • Otomotif
  • Video
  • Liputan Khusus
  • Even
  • Advertorial
  • Karir

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Truk PT MME Dikawal Melintasi Jalan Negara, Warga Pertanyakan Larangan Angkutan Batubara

11/10/2026

Rumah Panggung di Bukit Baru Palembang Ludes Terbakar, Damkar Kerahkan Enam Mobil

11/10/2026

Ekspor Madu Muara Enim ke Singapura Melonjak, Tembus 1,5 Ton

11/10/2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
relung.idrelung.id Sunday, 11 October 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
Login
  • Indeks
  • Regional
  • Politik
  • Hukum
  • Liputan Khusus
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Bola
  • Techno
  • Otomotif
  • Advertorial
  • Video
relung.idrelung.id
Home»Indeks»Raisye Soleh Haghia Tegaskan Peran Strategis AJI dalam Perjuangan Kebebasan Pers 1994 Hingga1999
Indeks

Raisye Soleh Haghia Tegaskan Peran Strategis AJI dalam Perjuangan Kebebasan Pers 1994 Hingga1999

alwiBy alwi12/06/2025
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
Meretas Jalan Kebebasan: Peran Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dalam Mewujudkan Jurnalisme Independen di Indonesia 1994–1999. (Istimewa/Relung)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

RELUNG.ID – Dr Raisye Soleh Haghia menegaskan bahwa Aliansi Jurnalis Independen (AJI) memainkan peran strategis sebagai kekuatan transformatif dalam memperjuangkan kebebasan pers dan membangun jurnalisme independen di Indonesia pada periode 1994–1999.

Hal itu disampaikannya saat mempertahankan disertasi dalam Sidang Promosi Doktor Ilmu Sejarah di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Selasa (10/6/2025).

Untuk diketahui, dalam sidang tersebut, Raisye dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan.

Baca juga :   Kepala Dinas di Muba Diduga Lakukan Pelecehan Seksual ke Pegawainya

Disertasi Raisye berjudul “Meretas Jalan Kebebasan: Peran Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dalam Mewujudkan Jurnalisme Independen di Indonesia 1994–1999”.

Dalam paparannya, Raisye menjelaskan bahwa lahirnya AJI tidak dapat dipisahkan dari konteks politik Orde Baru yang sangat represif terhadap ruang publik.

Rezim saat itu membatasi kebebasan berekspresi, mengooptasi organisasi wartawan seperti PWI, serta menerapkan sistem perizinan SIUPP yang mengekang kebebasan pers.

Baca juga :   VIDEO: Kawal Transisi Energi Berkeadilan Bersama Jejaring JTE Sumsel

“Namun, kondisi represif ini justru melahirkan resistensi terorganisir yang tidak hanya menantang struktur dominan, tetapi juga membangun sistem alternatif dalam praktik jurnalistik,” ujarnya.

Dialektika dan Strategi Gerakan

Raisye memaparkan bahwa kemunculan AJI merupakan hasil dari dialektika antara faktor eksternal dan internal. Di tingkat global, perubahan pasca Perang Dingin membuka ruang bagi masuknya nilai-nilai demokrasi yang diperkuat oleh kemajuan teknologi informasi.

Sementara di dalam negeri, munculnya kelas menengah terdidik khususnya dari kalangan jurnalis muda dan mantan aktivis kampus menjadi fondasi sosial bagi gerakan reformasi pers.

Baca juga :   Kolaborasi AJI-UIN Raden Fatah: Luncurkan Pusat Kajian Cek Fakta untuk Tangkal Disinformasi

“Para pendiri AJI memanfaatkan jaringan intelektual dan pengalaman aktivisme mereka untuk membangun pers alternatif sebagai alat perlawanan,” ungkapnya.

Strategi perlawanan AJI berkembang dari aksi simbolik menjadi pendekatan yang lebih sistematis dan terlembaga.

Gerakan ini berpijak pada empat pilar utama: membangun aliansi dengan masyarakat sipil, memanfaatkan jalur hukum sebagai ruang perjuangan ideologis, memperluas jaringan internasional melalui organisasi seperti IFJ, serta mengembangkan pendidikan dan media alternatif, termasuk penerbitan Suara Independen.

Baca juga :   Puting Beliung Porak-poranda 26 Rumah di Prabumulih

“Pendekatan multidimensional ini mencerminkan kecanggihan taktis sekaligus menandai pergeseran paradigma dalam gerakan sosial Indonesia,” kata Raisye.

Dampak Struktural dan Kontribusi Teoretis

Raisye menilai perjuangan AJI membawa dampak nyata, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam jangka pendek, AJI mampu mempertahankan eksistensi pers alternatif dan meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya kebebasan pers.

Dalam jangka panjang, AJI berkontribusi pada lahirnya tiga transformasi mendasar: perumusan UU Pers No. 40 Tahun 1999, normalisasi nilai-nilai jurnalisme independen, serta munculnya organisasi pers sebagai aktor penting dalam proses demokratisasi.

Baca juga :   Pemutusan Hubungan Kerja Sepihak Terhadap Pendiri SPCI di CNN Indonesia Memicu Kecaman AJI

Secara akademik, Raisye mengklaim penelitiannya memperkaya historiografi pers Indonesia melalui pendekatan history from below yang menempatkan aktor non-elit sebagai subjek sejarah. Ia juga mengembangkan model analisis gerakan sosial dalam kajian sejarah pers dan menekankan pentingnya pendekatan multidisipliner.

“Penelitian ini turut mengembangkan teori aksi kolektif Charles Tilly dengan mengidentifikasi varian gerakan profesional, serta menyoroti peran kapital sosial-budaya dalam mengatasi free rider dan bentuk-bentuk perlawanan hybrid,” ujarnya.

Relevansi dan Agenda Studi Lanjutan

Raisye menekankan bahwa temuan dalam penelitiannya tetap relevan di era kontemporer. Pengalaman AJI, menurutnya, menjadi pelajaran penting bagi ketahanan redaksional menghadapi tekanan negara dan menjadi panduan strategi efektif bagi aktivis demokrasi dalam membangun kapasitas gerakan jangka panjang.

Baca juga :   Yayasan Cerah dan AJI Palembang Gelar Lokakarya, Siapkan Jurnalis Hadapi Isu Transisi Energi

Ia juga mendorong penelitian lanjutan mengenai transformasi gerakan pers di era digital, perbandingan dengan negara-negara transisi lainnya, eksplorasi jaringan intelektual AJI di arsip internasional, serta studi mengenai transmisi nilai AJI kepada generasi jurnalis pasca-Reformasi.

“Warisan terpenting AJI adalah bukti bahwa jurnalisme independen tidak hanya mungkin terwujud di bawah sistem represif, tetapi juga mampu menjadi motor perubahan sosial dalam proses demokratisasi Indonesia,” tutup Raisye. (LWM)

AJI Aliansi Jurnalis Independen Peran strategis AJI
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleGubernur Sumsel Buka Labirin Sriwijaya Bootcamp 2025, Cetak Generasi ‘Tambeng’ dan Berdaya Saing Global
Next Article Tragedi Sabung Ayam: Tiga Polisi Tewas, Oknum TNI Dihadapkan pada Hukuman Mati
alwi

Related Posts

Regional

Truk PT MME Dikawal Melintasi Jalan Negara, Warga Pertanyakan Larangan Angkutan Batubara

11/10/20266 Views
Regional

Rumah Panggung di Bukit Baru Palembang Ludes Terbakar, Damkar Kerahkan Enam Mobil

11/10/20263 Views
Regional

Ekspor Madu Muara Enim ke Singapura Melonjak, Tembus 1,5 Ton

11/10/20262 Views
Add A Comment

Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

Olahraga Berbahaya! Ini Manfaat Parkour untuk Kesehatan Tubuh

09/10/202328,939 Views

Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

11/04/202428,809 Views

Daerah Kelimpungan Hadapi Pemangkasan TKD, Menkeu Purbaya Tegaskan Disiplin Fiskal Tak Bisa Dilanggar

08/10/202522,782 Views

Keajaiban Tersembunyi di Talang Sarang Bulan: Curup Ayek Bayau

21/07/20244,403 Views

Tabrak Ambulans Bawa Pasien, Kuasa Hukum RSUD Bayung Lencir Soroti Pemilik Truk Tangki

02/06/20251,359 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Demo
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
  • Tentang Kami
  • Info Kontak
  • Info Kerjasama
  • Karir
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
© 2026

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?