RELUNG.ID – Bulan suci Ramadan menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang, Dr Anang Walian, dalam kajian Ramadan yang mengangkat tema Konsep Tawazun dalam Islam.
Dalam pemaparannya, Ust Anang menjelaskan bahwa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sarana membentuk pribadi yang seimbang atau tawazun dalam menjalani kehidupan dunia dan akhirat.
“Sebagai seorang Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, kita patut bersyukur dapat menjalankan ibadah puasa Ramadan. Harapannya, kita mampu menyelesaikan puasa ini dengan sebaik-baiknya sehingga meraih derajat muttaqin, yakni orang-orang yang bertakwa kepada Allah SWT,” ujarnya.
Ia mengutip doa yang termaktub dalam Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 201, ‘Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzaban nar’, yang berarti permohonan kepada Allah agar diberikan kebaikan di dunia dan di akhirat serta dijauhkan dari siksa api neraka.
Menurutnya, doa tersebut menjadi landasan penting dalam membangun keseimbangan hidup.
Selain itu, ia juga menyinggung Surah Al-Qasas ayat 77 yang mengajarkan umat Islam untuk mengejar kebahagiaan akhirat tanpa melupakan bagian kehidupan dunia, serta larangan berbuat kerusakan di muka bumi.
“Islam tidak mengajarkan sikap berlebihan. Kita diperintahkan untuk seimbang, bahagia di dunia sebagai bekal menuju kebahagiaan akhirat,” jelasnya.
Dr. Anang turut mengisahkan peristiwa tiga sahabat Nabi yang ingin beribadah secara ekstrem dengan salat sepanjang malam tanpa istirahat, berpuasa terus-menerus tanpa berbuka, dan tidak menikah seumur hidup.
Namun, Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa beliau tetap salat dan beristirahat, berpuasa dan berbuka, serta menikah.
“Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam keseimbangan hidup. Siapa yang tidak menyukai sunah beliau, maka bukan termasuk golongannya,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menjabarkan bahwa konsep tawazun mencakup tiga aspek utama dalam diri manusia, yakni jasadiyah (fisik), ruhiyah (spiritual), dan aqliyah (akal).
Pertama, menjaga kesehatan jasmani.
Dalam hadis disebutkan bahwa puasa membawa manfaat kesehatan. Kedua, memperkuat ruhiyah dengan meningkatkan ibadah, memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, dan memperdalam keimanan.
Ketiga, mengembangkan aqliyah dengan terus belajar dan menambah wawasan melalui berbagai media seperti buku, kajian, maupun platform digital.
“Ramadan adalah madrasah kehidupan. Jika kita mampu menjaga keseimbangan antara jasad, ruh, dan akal, insyaAllah kita akan menjadi pribadi yang lebih baik dan bertakwa,” tuturnya.
Ia berharap seluruh umat Islam dapat menuntaskan ibadah puasa Ramadan dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan, sehingga terjadi peningkatan iman dan takwa yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. (LWM)

