RELUNG.ID – PT RANS Entertainment Indonesia Tbk menepis isu dugaan pencucian uang yang mencuat di tengah keberhasilan perusahaan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Manajemen menegaskan seluruh proses penawaran umum perdana saham (IPO) telah melalui pemeriksaan ketat dan memenuhi seluruh persyaratan regulator.
Komisaris Utama PT RANS Entertainment Indonesia Tbk, Darwin Cyril Noerhadi, mengatakan seluruh tahapan IPO tidak mungkin berjalan tanpa melalui proses verifikasi yang komprehensif dari berbagai pihak, mulai dari penjamin emisi hingga regulator pasar modal.
“Proses IPO harus memenuhi berbagai ketentuan yang ditetapkan OJK dan BEI. Semua aspek diperiksa secara menyeluruh,” ujar Darwin saat konferensi pers usai pencatatan saham perdana RANS di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jumat (10/7/2026).
Menurutnya, salah satu tahapan penting dalam IPO adalah due diligence, yakni pemeriksaan menyeluruh terhadap aspek hukum, keuangan, dan keterbukaan informasi perusahaan.
Darwin menjelaskan, setiap transaksi yang dilakukan perseroan harus memiliki dasar hukum yang jelas, didukung dokumen resmi, serta diverifikasi melalui proses audit dan pemeriksaan oleh pihak independen.
“Selain aspek hukum, perusahaan juga diwajibkan menyampaikan laporan keuangan secara transparan serta membuka seluruh informasi material kepada regulator maupun calon investor,”kata dia.
Karena itu, Darwin menilai isu dugaan pencucian uang yang beredar lebih bersifat spekulatif dan tidak didukung fakta.
“Soal dugaan pencucian uang, itu lebih kepada rumor daripada fakta. Yang kami sampaikan adalah fakta bahwa seluruh proses IPO telah memenuhi ketentuan yang berlaku,” tegasnya.
Ia menambahkan, status RANS sebagai perusahaan terbuka justru menjadi bentuk komitmen terhadap prinsip transparansi dan tata kelola perusahaan yang baik.
Sebelumnya, PT RANS Entertainment Indonesia Tbk resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia melalui skema Initial Public Offering (IPO) pada Jumat (10/7/2026).
Pada hari pertama perdagangan, saham berkode RANS langsung melesat hingga menyentuh Auto Rejection Atas (ARA) setelah naik 34,12 persen menjadi Rp228 per saham dari harga penawaran Rp170 per lembar.
Melalui aksi korporasi tersebut, perusahaan yang didirikan Raffi Ahmad itu melepas 2,525 miliar saham baru atau sekitar 20,02 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh, sehingga berhasil menghimpun dana segar sekitar Rp429,25 miliar untuk mendukung ekspansi bisnis di sektor industri kreatif.[THQ]

