RELUNG.ID – Penggunaan QRIS oleh wisatawan dan pengguna asing di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan. Bank Indonesia (BI) mencatat transaksi QRIS lintas negara dari pengguna asing atau inbound mencapai Rp6,20 triliun sepanjang 2022 hingga Agustus 2026.
Nilai transaksi tersebut berasal dari 17,8 juta transaksi yang dilakukan pengguna asing saat bertransaksi di Indonesia.
Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta mengatakan, nilai transaksi inbound tersebut jauh lebih besar dibandingkan transaksi pengguna Indonesia yang menggunakan QRIS di luar negeri atau outbound.
“Kalau kita lihat tadi, inbound-nya untuk transaksi sudah mencapai 17,8 juta transaksi nilainya Rp6,2 triliun, sementara outbound 5 juta transaksi nilainya 1,85 triliun,” kata Filianingsih dalam gelaran FEKDI x IFSE 2026 di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (26/9/2026).
Berdasarkan catatan tersebut, transaksi inbound QRIS secara kumulatif mencatat posisi net inbound positif Rp4,35 triliun dibandingkan transaksi outbound pada periode yang sama.
Di sisi lain, perkembangan QRIS juga terlihat dari semakin luasnya ekosistem pengguna dan merchant. BI mencatat jumlah pengguna QRIS telah mencapai 69,3 juta, dengan jumlah merchant sebanyak 47,1 juta.
Menariknya, sebagian besar merchant yang telah menggunakan QRIS berasal dari sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Porsinya mencapai 96,7 persen dari total merchant QRIS.
Kondisi tersebut membuat transaksi digital tidak hanya menjadi bagian dari perubahan sistem pembayaran, tetapi juga membuka akses bagi pelaku UMKM untuk melayani konsumen dari berbagai negara.
BI pun terus memperluas adopsi QRIS melalui sejumlah program, di antaranya Pasar SIAP QRIS, Mall SIAP QRIS, Pekan QRIS Nasional (PQN), QRIS Jelajah Indonesia, QRIS Jelajah Kuliner, hingga QRIS Star Merchant.
Menurut Filianingsih, perkembangan ekonomi digital ke depan akan semakin dipengaruhi oleh tiga faktor utama. Salah satunya adalah semakin besarnya partisipasi generasi milenial, Gen Z, dan Alpha dalam aktivitas ekonomi.
Selain itu, interkoneksi antarnegara yang semakin kuat serta pesatnya inovasi pembayaran digital juga dinilai akan mempercepat transformasi ekonomi digital.
“Arus interkoneksi antarnegara yang semakin menguat dan inovasi pembayaran digital yang semakin deras dengan banyaknya inovasi-inovasi baru serta AI,” ujarnya.[THQ]

