Close Menu
relung.idrelung.id
  • Relung Community
  • Indeks
  • Regional
  • Hukum
  • Politik
  • Bola
  • Bisnis
  • Techno
  • Otomotif
  • Video
  • Liputan Khusus
  • Even
  • Advertorial
  • Karir

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Karhutla Sudah Bikin Malu Bangsa, Asap Indonesia Ganggu Negara Tetangga 

10/10/2026

UIN Raden Fatah Palembang Resmi Buka Prodi Kedokteran, Jadwal Penerimaan Mahasiswa Belum Diumumkan

10/10/2026

Diduga Jadi Sarang Narkoba, Dua Perkampungan di Palembang Digerebek Polisi

10/10/2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
relung.idrelung.id Sunday, 11 October 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
Login
  • Indeks
  • Regional
  • Politik
  • Hukum
  • Liputan Khusus
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Bola
  • Techno
  • Otomotif
  • Advertorial
  • Video
relung.idrelung.id
Home»Indeks»Regional»Risiko Karhutla Meningkat, Sumsel Perketat Patroli dan Tambah Personel di Wilayah Rawan
Regional

Risiko Karhutla Meningkat, Sumsel Perketat Patroli dan Tambah Personel di Wilayah Rawan

Eko Prasetyo JayawisudaBy Eko Prasetyo Jayawisuda09/07/2026
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

RELUNG.ID – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan diperkirakan meningkat dalam sepekan ke depan. Menyikapi kondisi tersebut, Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Kementerian Kehutanan Wilayah Sumatera memperkuat langkah antisipasi dengan menambah personel dan mengintensifkan patroli di sejumlah kawasan rawan.

Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan peningkatan kewaspadaan dilakukan setelah indikator Fine Fuel Moisture Code (FFMC) dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan kondisi bahan bakar permukaan berada pada kategori mudah terbakar.

“Prediksi FFMC BMKG untuk sepekan ke depan menunjukkan potensi kebakaran meningkat di seluruh Pulau Sumatera, termasuk Sumatera Selatan. Karena itu, kami menambah personel di sekitar Indralaya dan meningkatkan frekuensi patroli di titik-titik yang memiliki risiko tinggi,” ujar Ferdian, Kamis (9/7/2026).

FFMC merupakan indikator yang menggambarkan tingkat kekeringan material ringan di permukaan tanah, seperti dedaunan kering, rumput, humus, dan semak belukar. Ketika nilainya tinggi, api akan lebih mudah muncul dan cepat menyebar apabila terdapat sumber pemicu.

Selain memperkuat patroli darat, Dalkarhut juga mengoptimalkan pemantauan titik panas (hotspot), terutama di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yang didominasi kawasan perkebunan dan hutan tanaman industri (HTI).

Menurut Ferdian, setiap temuan hotspot maupun hasil pemantauan udara langsung diteruskan kepada perusahaan-perusahaan yang memiliki konsesi di wilayah tersebut. Langkah itu dilakukan agar tim Regu Pengendali Kebakaran (RPK) milik perusahaan dapat segera melakukan penanganan dini sebelum api meluas.

“Kami terus membagikan informasi hotspot kepada perusahaan perkebunan dan HTI di OKI. Mereka sudah memiliki RPK yang sebelumnya kami latih sehingga respons di lapangan bisa lebih cepat,” katanya.

Meski faktor cuaca menjadi pemicu meningkatnya risiko karhutla, Ferdian menegaskan sebagian besar kebakaran tetap berawal dari aktivitas manusia, baik disengaja maupun akibat kelalaian.

Ia mencontohkan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar, pembakaran sampah di sekitar permukiman, hingga puntung rokok yang dibuang sembarangan di lahan gambut kering dapat memicu kebakaran besar, terutama saat angin bertiup kencang.

“Kondisi alam hanya memperbesar potensi. Api tetap membutuhkan pemicu. Dalam banyak kasus, kebakaran bermula dari aktivitas manusia yang kemudian sulit dikendalikan karena vegetasi sangat kering dan angin mempercepat penyebaran api,” jelasnya.

Dalkarhut mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran dalam bentuk apa pun selama musim kemarau. Upaya pencegahan dinilai menjadi langkah paling efektif untuk menekan risiko karhutla yang diperkirakan akan meningkat menjelang puncak musim kemarau pada Agustus hingga September.[THQ]

 

Karhutla Sumsel
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleAntrean Solar dan Kemacetan Dominasi Keluhan Warga Saat Reses DPRD Sumsel
Next Article Brabus Merambah Dunia Kapal Pesiar, Siapkan Yacht Mewah Perdana Meluncur Tahun Ini
Eko Prasetyo Jayawisuda

Related Posts

Regional

Karhutla Sudah Bikin Malu Bangsa, Asap Indonesia Ganggu Negara Tetangga 

10/10/20264 Views
Regional

UIN Raden Fatah Palembang Resmi Buka Prodi Kedokteran, Jadwal Penerimaan Mahasiswa Belum Diumumkan

10/10/20265 Views
Regional

Diduga Jadi Sarang Narkoba, Dua Perkampungan di Palembang Digerebek Polisi

10/10/20262 Views
Add A Comment

Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

Olahraga Berbahaya! Ini Manfaat Parkour untuk Kesehatan Tubuh

09/10/202328,871 Views

Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

11/04/202428,744 Views

Daerah Kelimpungan Hadapi Pemangkasan TKD, Menkeu Purbaya Tegaskan Disiplin Fiskal Tak Bisa Dilanggar

08/10/202522,717 Views

Keajaiban Tersembunyi di Talang Sarang Bulan: Curup Ayek Bayau

21/07/20244,403 Views

Tabrak Ambulans Bawa Pasien, Kuasa Hukum RSUD Bayung Lencir Soroti Pemilik Truk Tangki

02/06/20251,359 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Demo
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
  • Tentang Kami
  • Info Kontak
  • Info Kerjasama
  • Karir
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
© 2026

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?