RELUNG.ID – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan diperkirakan meningkat dalam sepekan ke depan. Menyikapi kondisi tersebut, Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Kementerian Kehutanan Wilayah Sumatera memperkuat langkah antisipasi dengan menambah personel dan mengintensifkan patroli di sejumlah kawasan rawan.
Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan peningkatan kewaspadaan dilakukan setelah indikator Fine Fuel Moisture Code (FFMC) dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan kondisi bahan bakar permukaan berada pada kategori mudah terbakar.
“Prediksi FFMC BMKG untuk sepekan ke depan menunjukkan potensi kebakaran meningkat di seluruh Pulau Sumatera, termasuk Sumatera Selatan. Karena itu, kami menambah personel di sekitar Indralaya dan meningkatkan frekuensi patroli di titik-titik yang memiliki risiko tinggi,” ujar Ferdian, Kamis (9/7/2026).
FFMC merupakan indikator yang menggambarkan tingkat kekeringan material ringan di permukaan tanah, seperti dedaunan kering, rumput, humus, dan semak belukar. Ketika nilainya tinggi, api akan lebih mudah muncul dan cepat menyebar apabila terdapat sumber pemicu.
Selain memperkuat patroli darat, Dalkarhut juga mengoptimalkan pemantauan titik panas (hotspot), terutama di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yang didominasi kawasan perkebunan dan hutan tanaman industri (HTI).
Menurut Ferdian, setiap temuan hotspot maupun hasil pemantauan udara langsung diteruskan kepada perusahaan-perusahaan yang memiliki konsesi di wilayah tersebut. Langkah itu dilakukan agar tim Regu Pengendali Kebakaran (RPK) milik perusahaan dapat segera melakukan penanganan dini sebelum api meluas.
“Kami terus membagikan informasi hotspot kepada perusahaan perkebunan dan HTI di OKI. Mereka sudah memiliki RPK yang sebelumnya kami latih sehingga respons di lapangan bisa lebih cepat,” katanya.
Meski faktor cuaca menjadi pemicu meningkatnya risiko karhutla, Ferdian menegaskan sebagian besar kebakaran tetap berawal dari aktivitas manusia, baik disengaja maupun akibat kelalaian.
Ia mencontohkan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar, pembakaran sampah di sekitar permukiman, hingga puntung rokok yang dibuang sembarangan di lahan gambut kering dapat memicu kebakaran besar, terutama saat angin bertiup kencang.
“Kondisi alam hanya memperbesar potensi. Api tetap membutuhkan pemicu. Dalam banyak kasus, kebakaran bermula dari aktivitas manusia yang kemudian sulit dikendalikan karena vegetasi sangat kering dan angin mempercepat penyebaran api,” jelasnya.
Dalkarhut mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran dalam bentuk apa pun selama musim kemarau. Upaya pencegahan dinilai menjadi langkah paling efektif untuk menekan risiko karhutla yang diperkirakan akan meningkat menjelang puncak musim kemarau pada Agustus hingga September.[THQ]

