RELUNG.ID — Indonesia Fact Checking Summit (IFCS) diselenggarakan di Palembang. Acara ini, dihadiri oleh lebih dari 500 peserta, merupakan kolaborasi antara Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), dan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), dengan dukungan dari Google News Initiative.
Ross Tapsell, seorang profesor dari Australian National University (ANU), diundang sebagai pembicara utama dalam sesi pembukaan IFCS. Tapsell menyampaikan penelitiannya yang membandingkan tren pemilu dan penggunaan media sosial dalam kampanye politik di Indonesia, Filipina, dan Malaysia.
Menurut Tapsell, dalam pemilu 2024, Prabowo Subianto dan elit Orde Baru lainnya menggunakan pola komunikasi yang dikenal sebagai ‘toxic positivity’ dalam kampanye mereka.
“Meskipun tidak mengadopsi taktik kampanye negatif atau menyebarkan disinformasi, kampanye Prabowo bertujuan untuk membangkitkan energi positif tanpa menyoroti masa lalu atau kebijakan yang kontroversial, ” kata dia.
Dalam diskusi IFCS yang mengundang sejumlah pakar, seperti Koordinator Koalisi CekFakta Adi Marsiela, News Partner Manager Google Indonesia Yos Kusuma, Ketua Presidium Mafindo Septiaji Eko Nugroho, dan Kepala Ummi Salamah, banyak tantangan yang dihadapi dalam mengatasi gangguan informasi selama pemilu 2024 dibahas.
Adi Marsiela menyebut bahwa CekFakta telah melakukan pengecekan terhadap ribuan artikel yang diproduksi selama pemilu 2024, dengan fokus utama pada isu-isu terkait pilpres, politik, luar negeri, penipuan, dan bencana.
Sementara itu, Yos Kusuma dari Google Indonesia menyebut upaya bekerja sama dengan mitra ekosistem untuk melawan hoaks dan meningkatkan literasi media masyarakat.
IFCS juga menekankan pentingnya pendekatan yang lebih emosional dalam menanggapi disrupsi informasi, dengan menampilkan sisi-sisi emosional dalam fakta-fakta yang disajikan.[RG]

