RELUNG.ID – Nilai tukar Rupiah diprediksi mengalami penguatan signifikan mulai semester kedua tahun 2025, didorong oleh melemahnya dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.
Menurut TD Securities, Rupiah berpotensi menguat hingga 4 persen dari level penutupan Jumat (16/5), yaitu Rp 16.440 per dolar AS. Jika terealisasi, proyeksi ini dapat membawa Rupiah mendekati angka Rp 15.200 per dolar AS pada akhir Desember 2025, seperti yang diprediksi oleh ING Financial Markets. Citigroup Global Markets juga optimis, memprediksi Rupiah berada di level Rp 16.000 per dolar AS tahun depan.
Alex Loo, ahli strategi makro di TD Securities, menyebut pelemahan dolar AS sebesar 5 persen hingga akhir 2025 menjadi pendorong utama penguatan Rupiah. “Investor mulai mengalihkan dana dari aset-aset berbasis dolar AS, memberikan ruang bagi Rupiah untuk mengejar ketertinggalannya dibandingkan mata uang Asia lainnya,” ujar Loo.
Setelah Rupiah mencatat penguatan 3 persen dari posisi terendah sepanjang masa pada April lalu, tekanan terhadap Bank Indonesia (BI) untuk mengintervensi nilai tukar semakin mereda. Wells Fargo Securities bahkan memprediksi BI akan memangkas suku bunga acuannya hingga 75 basis poin tahun ini, yang diperkirakan dapat memperkuat stabilitas ekonomi.
Selain faktor eksternal, sentimen positif terhadap Rupiah juga dipengaruhi oleh meningkatnya kepercayaan investor. Bursa saham domestik menunjukkan tren bullish, dan pembelian bersih obligasi pemerintah oleh investor asing telah berlangsung selama enam bulan berturut-turut.
Menurut McKenna dari Wells Fargo Securities, peluang penguatan Rupiah bisa lebih besar jika pemerintah menunjukkan komitmen terhadap efisiensi fiskal. Hingga kini, dana dari hasil penghematan anggaran pemerintah sebagian besar belum dialokasikan.
“Jika pemerintah berhasil menunjukkan pengurangan belanja sosial yang tidak efisien dan lebih fokus pada target fiskal, Rupiah bisa menutupi kerugian dari awal tahun dan menjadi lebih tangguh,” tambahnya.[THQ]

