RELUNG.ID – Nama Ibnu Sutowo dikenal luas sebagai pendiri Pertamina, perusahaan minyak nasional Indonesia yang kini menjadi salah satu raksasa energi dunia.
Di balik kiprahnya yang gemilang di dunia perminyakan, ternyata Ibnu Sutowo juga memainkan peran penting dalam sejarah Indonesia, khususnya dalam meredam pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di wilayah Sumatera Selatan pada era 1950-an.
Sebagai sosok yang pernah menjabat berbagai posisi strategis, mulai dari dunia medis, militer, hingga menjadi Menteri Migas dan Direktur Utama Pertamina, Ibnu Sutowo menunjukkan keahliannya sebagai seorang negosiator ulung yang mengedepankan dialog untuk menciptakan perdamaian.
Dalam masa genting pemberontakan PRRI, pendekatan yang dilakukan Ibnu Sutowo terbukti efektif sehingga wilayah Sumatera Selatan tetap damai tanpa adanya pertempuran.
Menurut Pontjo Sutowo, anak keempat Ibnu Sutowo, keberhasilan ayahnya dalam meredam konflik PRRI tidak lepas dari kemampuannya mengajak para pemimpin lokal untuk berdialog.
“Ayah saya selalu menghubungi masing-masing orang, diajak bicara, diajak berdialog. Karena itu, di Sumatera Selatan tidak terjadi gejolak seperti di daerah lain,” ungkap Pontjo dalam acara Pameran Foto dan Arsip Tokoh-Tokoh Pejuang Kemerdekaan Sumatera Selatan di Museum Pahlawan Nasional Mayjen TNI (Purn) Dr. AK Gani, Kamis (30/1/2025).
Operasi Sadar, yang dipimpin oleh Ibnu Sutowo, menjadi salah satu kunci utama keberhasilan meredam pemberontakan PRRI di Sumsel.
Melalui pendekatan damai dan negosiasi yang intens, Ibnu Sutowo mampu mengajak tokoh-tokoh lokal seperti Kolonel Simbolon untuk kembali ke pangkuan NKRI tanpa harus melalui jalan peperangan.
Selain itu, Ibnu Sutowo juga memiliki kedekatan personal dengan para pemimpin militer di Sumsel, termasuk Pangdam TT II Kol. H. Barlian. Hubungan baik ini turut mendukung upaya perdamaian yang dirintisnya.
Pontjo menambahkan peran ayahnya sangat signifikan dalam memastikan Sumsel tetap kondusif di tengah gejolak yang terjadi di Sumatera Tengah.
Keberhasilan Ibnu Sutowo dalam meredam konflik PRRI di Sumatera Selatan ini semakin menegaskan kapasitasnya sebagai seorang pemimpin visioner. Tak hanya mampu membangun Pertamina menjadi perusahaan minyak yang disegani, ia juga berhasil menjaga stabilitas wilayah melalui pendekatan damai dan komunikasi yang baik.
Meski namanya kerap dikaitkan dengan kontroversi terkait pengelolaan Pertamina, kiprah Ibnu Sutowo dalam perjuangan kemerdekaan, khususnya dalam menghadapi PRRI, tidak bisa dikesampingkan. Hingga saat ini, usulan untuk menjadikan Ibnu Sutowo sebagai pahlawan nasional belum secara resmi diajukan, namun Pontjo Sutowo berharap hal ini dapat menjadi bahan pertimbangan di masa mendatang.
“Beliau orangnya low profile, tapi perjuangannya luar biasa. Jika ada usulan dari Sumatera Selatan untuk menjadikan ayah saya pahlawan nasional, tentu kami akan menghargai itu,” tutup Pontjo. (DSK)

