RELUNG.ID – Sriwijaya FC (SFC) menghadapi ancaman degradasi yang semakin nyata menjelang laga playoff degradasi musim 2024/2025. CEO PT Digi Sport Asia, Anggoro, resmi mundur dari perannya dalam pengelolaan klub Laskar Wong Kito setelah desakan manajemen PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM). Keputusan ini datang di tengah ketidakpastian dan kekacauan internal yang melanda klub, yang kini terancam turun kasta.
Anggoro, yang telah berperan aktif dalam upaya penyelamatan SFC, menyatakan mundur per tanggal 15 Januari 2025. Ia berharap penggantinya mampu membawa klub keluar dari ancaman degradasi.
“Mulai hari ini, saya tidak lagi terlibat langsung mengurus Sriwijaya FC. Kami butuh figur yang mampu mengendalikan situasi dan memastikan SFC bertahan di liga,” ujar Anggoro.
Keadaan internal SFC yang terus memburuk menjadi perhatian serius, terlebih dengan adanya playoff degradasi yang dijadwalkan pada 19 Januari 2025. Anggoro menegaskan bahwa dirinya hanya membantu koordinasi klub dalam keadaan mendesak, namun kini ia kembali ke peran awalnya sebagai investor.
“Tugas terakhir saya adalah mendatangkan enam pemain baru untuk memperkuat tim. Mulai hari ini, saya kembali ke peran investor saja,” ungkap Anggoro.
Dengan total 13 pemain yang didaftarkan untuk playoff degradasi, SFC berharap timnya cukup untuk menghadapi laga penting tersebut. Pemain-pemain yang didatangkan termasuk enam pemain baru, empat dari Bandung United dan Maung Anom, serta tiga pemain dari Askot PSSI Palembang. Salah satu pemain baru yang didatangkan adalah Chris Rumbiak, yang diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi tim.
Selain masalah teknis di lapangan, SFC juga menghadapi masalah serius terkait gaji pemain. Anggoro mengungkapkan bahwa pembayaran gaji pemain saat ini dilakukan dengan menggunakan dana pinjaman, karena sponsor belum memberikan dukungan finansial yang cukup.
“Bank Sumsel Babel menunggu Gubernur terpilih dilantik, sementara sponsor lain hanya berjanji tanpa realisasi. Ini membuat gaji pemain terpaksa dibayar dari dana investor Digi Sport Asia,” jelasnya.
Keterlambatan pembayaran gaji pemain ini menyulitkan kondisi tim dan memengaruhi semangat pemain dalam persiapan playoff degradasi. Anggoro menyayangkan kurangnya dukungan sponsor yang seharusnya bisa membantu menyelesaikan masalah finansial lebih awal.
Dengan mundurnya Anggoro, pengelolaan klub kini berada di tangan PT SOM sebagai pengelola resmi SFC. Namun, belum ada kejelasan siapa yang akan menggantikan Anggoro dalam mengelola klub secara langsung. Krisis ini menambah kekhawatiran bahwa performa tim dapat terganggu di tengah upaya bertahan di liga.
Nasib Sriwijaya FC kini bergantung pada langkah cepat dan tepat dari manajemen PT SOM untuk mengisi posisi strategis yang kosong. Akankah Laskar Wong Kito berhasil melewati babak playoff degradasi, atau harus menerima kenyataan pahit turun kasta? Publik Sumatera Selatan kini menunggu keputusan yang menentukan untuk menyelamatkan kebanggaan mereka.[AYK]

