Close Menu
relung.idrelung.id
  • Relung Community
  • Indeks
  • Regional
  • Hukum
  • Politik
  • Bola
  • Bisnis
  • Techno
  • Otomotif
  • Video
  • Liputan Khusus
  • Even
  • Advertorial
  • Karir

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Mutasi Polri, Brigjen Irwansyah Kini Dipercaya Jadi Wakapolda Sumsel

11/10/2026

Kabut Asap Selimuti Pagar Alam, Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat

11/10/2026

Polri Mutasi 199 Personel, Jabatan Kakorlantas dan Tiga Kapolda Berganti

11/10/2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
relung.idrelung.id Sunday, 11 October 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
Login
  • Indeks
  • Regional
  • Politik
  • Hukum
  • Liputan Khusus
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Bola
  • Techno
  • Otomotif
  • Advertorial
  • Video
relung.idrelung.id
Home»Indeks»Regional»Suara dari Palembang 1926: Ketika Rakyat Bersuara, Siapa yang Mendengar?
Regional

Suara dari Palembang 1926: Ketika Rakyat Bersuara, Siapa yang Mendengar?

ADMINBy ADMIN04/08/2025
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
Dudy Oskandar
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Oleh:Dudy Oskandar

Surat kabar Tjahaja Palembang edisi 26 Agustus 1926 adalah salah satu dokumen berharga yang memperlihatkan wajah lain dari masa kolonial—wajah yang dipenuhi jeritan, kritik, dan harapan dari rakyat kecil yang selama ini terpinggirkan. Di tengah dominasi kekuasaan kolonial Hindia Belanda, surat kabar lokal ini justru menjadi jembatan suara mereka yang tak terdengar: umat beragama, buruh kontrak, dan anak-anak pribumi yang ingin belajar.

Ketiga isu yang diangkat oleh Tjahaja Palembang—yakni persoalan agama, penderitaan buruh kontrak, dan pajak untuk anak sekolah—menjadi cermin betapa beratnya kehidupan masyarakat Palembang kala itu. Namun, lebih dari sekadar pelaporan, edisi ini juga menandai keberanian sebuah media lokal untuk mengambil sikap moral: membela yang lemah.

Agama: Ketika Iman Dijadikan Alat Kuasa

Pemberitaan tentang penyelidikan Penasehat Urusan Pribumi terhadap kasus penyalahgunaan wewenang dalam urusan agama, seperti yang juga dilaporkan oleh Pertja Selatan, menunjukkan bahwa umat Islam Palembang tidak tinggal diam ketika nilai-nilai suci diinjak oleh pejabat agama sendiri. Bahwa surat kabar lokal seperti Tjahaja Palembang dengan lugas menyuarakan keluhan masyarakat membuktikan bahwa media telah memainkan peran kontrol sosial bahkan sejak masa kolonial.

Redaktur S. M. Nangtjik dengan tegas menyatakan bahwa fungsi surat kabar adalah menyuarakan kebenaran. Ini bukan sekadar retorika, tetapi komitmen terhadap keadilan. Di tengah tekanan sensor dan ancaman represi, sikap ini adalah bentuk perlawanan yang tak kalah berani dari gerakan fisik.

Buruh Kontrak: Wajah Tertindas di Lahan Subur

Artikel “Semakin Lama Semakin Terpinggirkan” adalah potret getir dari buruh kontrak di Palembang, yang sebagian besar didatangkan dari Jawa akibat kemiskinan struktural. Mereka adalah korban dari sistem kolonial yang mengeruk tenaga dan memeras keringat demi kepentingan ekonomi segelintir elit dan perusahaan asing.

Upah rendah, akses minim terhadap kebutuhan pokok, serta ketiadaan layanan spiritual dan sosial membuat kehidupan mereka tak ubahnya budak di zaman modern. Ketika surat kabar lokal menuntut keberadaan khatib tetap, pengawasan harga, dan larangan berjudi, itu adalah bentuk advokasi sosial yang sangat progresif untuk zamannya.

Lebih mengharukan, Tjahaja Palembang bahkan mengirimkan satu eksemplar surat kabar itu ke kantor pengawasan tenaga kerja di Weltevreden (Jakarta). Ini bukan sekadar berita, tapi aksi.

Pendidikan: Pajak dan Rodi yang Membunuh Asa Anak Pribumi

Surat pembaca dari “Dielatang Kerbau” adalah jeritan hati seorang yang peduli akan masa depan bangsa. Ia menyoroti Sekolah Pribumi kelas II di Sira Pulau Kilip, tempat anak-anak belajar dengan penuh keterbatasan namun tetap semangat. Namun, semangat itu terancam padam oleh kewajiban membayar pajak dan mengikuti kerja rodi.

Apa artinya pendidikan bila dihambat oleh beban yang tidak layak ditanggung anak-anak? Apa gunanya membangun bangsa jika generasi mudanya dipaksa memilih antara belajar dan kerja paksa?

Permohonan kepada pemerintah kolonial agar membebaskan murid dari pajak dan kerja rodi adalah cermin harapan sederhana: agar anak-anak bisa belajar dengan tenang dan bermimpi tanpa beban yang menindas.

Refleksi: Keadilan adalah Napas yang Harus Dijaga

Tulisan-tulisan di Tjahaja Palembang pada 1926 menunjukkan bahwa masyarakat kita telah lama bersuara. Mereka tidak diam, mereka mengkritik, mereka menuntut, dan mereka berharap. Surat kabar menjadi alat perjuangan mereka, menjadi ruang aman untuk bersuara di tengah tekanan politik dan sosial.

Kini, hampir seabad kemudian, pertanyaannya tetap sama: apakah suara rakyat masih kita dengarkan? Apakah media masih menjadi ruang pembelaan bagi mereka yang terpinggirkan?

Kita mungkin hidup dalam zaman yang lebih bebas, tetapi nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Tjahaja Palembang—keadilan, keberanian bersuara, dan keberpihakan pada yang lemah—adalah warisan moral yang patut kita rawat dan teruskan.

Karena ketika media berhenti peduli, maka kekuasaan akan berjalan tanpa arah. Dan ketika rakyat berhenti bersuara, maka keadilan akan menjadi ilusi. (*)

Penulis adalah jurnalis serta pemerhati sejarah di Sumatera Selatan

OPINI Sejarah Palembang Surat Kabar Palembang
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleIndonesia Mendunia, Setelah Aura Farming Kini Sound Horeg Viral Diposting Klub Liga Italia Juventus
Next Article Rekam Jejak Sunindyo di Tambang Sumsel: Dewan Minta Kejati Bergerak, Panggil Inspektur Tambang
ADMIN

Related Posts

Regional

Mutasi Polri, Brigjen Irwansyah Kini Dipercaya Jadi Wakapolda Sumsel

11/10/202615 Views
Regional

Kabut Asap Selimuti Pagar Alam, Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat

11/10/20263 Views
Regional

Polri Mutasi 199 Personel, Jabatan Kakorlantas dan Tiga Kapolda Berganti

11/10/20268 Views
Add A Comment

Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

Olahraga Berbahaya! Ini Manfaat Parkour untuk Kesehatan Tubuh

09/10/202328,977 Views

Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

11/04/202428,848 Views

Daerah Kelimpungan Hadapi Pemangkasan TKD, Menkeu Purbaya Tegaskan Disiplin Fiskal Tak Bisa Dilanggar

08/10/202522,821 Views

Keajaiban Tersembunyi di Talang Sarang Bulan: Curup Ayek Bayau

21/07/20244,403 Views

Tabrak Ambulans Bawa Pasien, Kuasa Hukum RSUD Bayung Lencir Soroti Pemilik Truk Tangki

02/06/20251,359 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Demo
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
  • Tentang Kami
  • Info Kontak
  • Info Kerjasama
  • Karir
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
© 2026

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?