RELUNG.ID — Meskipun Sumatera Selatan (Sumsel) belum mengalami lonjakan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel tetap waspada mengingat sejarah rawannya daerah ini terhadap bencana tersebut.
Kepala BPBD Sumsel, M Iqbal Alisyahbana, menjelaskan bahwa hingga saat ini Pemerintah Provinsi Sumsel belum menaikkan status siaga Karhutla. Hal ini disebabkan oleh hujan yang masih cukup intens di sebagian besar wilayah Sumsel, meskipun ada peningkatan jumlah hot spot.
“Meski sebagian wilayah Sumsel masih turun hujan, kami tetap waspada terhadap potensi Karhutla. Kondisi Sumsel berbeda dengan daerah lain seperti Riau yang sudah menaikkan status siaga karena kondisi pesisirnya yang mulai jarang hujan,” ungkap Iqbal, Rabu (19/3/2024).
Menurut Iqbal, biasanya terdapat dua fase Karhutla di Riau, yaitu pada Maret atau April, dan pada Agustus-Oktober. Oleh karena itu, antisipasi dilakukan lebih awal oleh Pemda setempat.
Untuk menaikkan status siaga Karhutla, minimal harus terjadi dua daerah yang mengalami kebakaran hutan dan lahan. Selain itu, BPBD juga memperhatikan laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait musim kemarau yang bisa berdampak pada Karhutla.
“Saat ini, meskipun jumlah titik panas di Sumsel masih terbatas, kesiapsiagaan dalam penanganan Karhutla tetap menjadi prioritas kami untuk mengantisipasi potensi bahaya yang bisa timbul,” tambahnya.
Berdasarkan data yang tercatat di aplikasi Songket, terdapat 14 titik panas di Sumsel. Namun, Iqbal menegaskan bahwa hot spot tersebut terjadi di lahan non-gambut, bukan di wilayah gambut. Titik-titik panas terbanyak terjadi di Muara Enim dengan 7 titik, sementara OKU Selatan dan Lahat masing-masing memiliki 2 titik, dan Muaraenim dan Empat Lawang masing-masing memiliki 1 titik. [RG]

