RELUNG.ID – Provinsi Sumatera Selatan terus menggenjot sektor pertanian dengan ambisi menjadi lumbung pangan nasional. Bahkan pada tahun 2025, Sumsel menargetkan pencetakan sawah baru seluas 48 ribu hektare di wilayah potensial. Namun di balik geliat ekspansi pertanian itu, ironi justru terjadi di Ibu Kota provinsi — Palembang masih harus mendatangkan beras dari daerah lain.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) per April 2025 mencatat potensi lahan rawa yang bisa dikembangkan menjadi sawah di Sumsel mencapai 1 juta hektare. Namun ketersediaan beras, khususnya beras premium, di Palembang belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan masyarakat.
Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang menjalin kerja sama pasokan pangan dengan Pemerintah Kabupaten Subang melalui skema Kerja Sama Antar Daerah (KAD). Perjanjian resmi diteken pada Rabu (23/7/2025) di Kantor Bupati Subang.
“Kerja sama ini tidak hanya bertujuan untuk menjaga pasokan beras, tetapi juga sebagai langkah strategis menekan inflasi harga pangan di Palembang,” kata Wakil Wali Kota Palembang, Prima Salam, Jumat (25/7/2025).
Subang dipilih karena dikenal sebagai daerah penghasil beras unggulan dengan cita rasa yang digemari masyarakat Sumsel. Perjanjian ini tertuang dalam nota kesepahaman yang melibatkan OPD terkait dan Perumda Palembang Jaya, bersama CV Sari Bumi Nusantara dari Subang.
KAD tersebut juga turut dihadiri Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), termasuk Wakil Bupati Subang Agus Masykur Rosyadi dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumsel, Bambang Pramono.
Bambang menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari strategi pengendalian inflasi. Berdasarkan data BPS Palembang, pertumbuhan ekonomi kota ini mencapai 5,13 persen secara tahunan pada 2024, lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar 5,03 persen, dengan inflasi tetap terjaga dalam kisaran target.
“Langkah ini penting untuk memastikan kestabilan harga pangan, terutama menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN),” ujarnya.
Ironisnya, secara statistik Sumsel sebenarnya mampu menopang kebutuhan beras dalam daerah. Produksi gabah kering giling (GKG) pada 2024 mencapai 2,84 juta ton dari luas panen 521.250 hektare, mengalami peningkatan meski dalam kondisi musim kemarau. Hal ini turut didorong oleh keberhasilan program budidaya padi terapung.
Kabupaten-kabupaten seperti Banyuasin, Ogan Komering Ilir (OKI), dan Ogan Komering Ulu Timur (OKUT) menjadi penyumbang terbesar produksi gabah di Sumsel.
Tak hanya itu, sembilan kabupaten lain aktif memperluas lahan sawah baru, antara lain:
- OKI: 11.400 Ha
- OKU Timur: 10.600 Ha
- Ogan Ilir: 10.600 Ha
- Musi Banyuasin: 9.400 Ha
- PALI: 3.200 Ha
- Muara Enim: 1.764 Ha
- Muratara: 600 Ha
- Empat Lawang: 236 Ha
- Musi Rawas: 200 Ha
Meskipun produksi tinggi dan lahan potensial besar, persoalan distribusi dan pengelolaan stok masih menjadi tantangan utama. Akibatnya, kota besar seperti Palembang tetap bergantung pada pasokan dari luar provinsi.[THQ]

