RELUNG.ID – Pola belanja masyarakat Sumatera Selatan (Sumsel) mengalami perubahan besar sepanjang 2025. Transaksi non-tunai kini bukan lagi sekadar alternatif, melainkan telah menjadi kebiasaan baru. Salah satu indikator terkuatnya terlihat dari lonjakan penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) Sumsel, jumlah pengguna QRIS sepanjang 2025 mencapai 1,48 juta orang, melampaui target yang sebelumnya ditetapkan. Tak hanya dari sisi pengguna, pertumbuhan juga terjadi pada intensitas transaksi yang melonjak tajam.
Kepala BI Sumsel, Bambang Pramono, mengungkapkan bahwa volume transaksi QRIS di wilayah ini meningkat hingga 198,41 persen, dengan total 4,2 juta transaksi sepanjang tahun lalu. Angka tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Sumsel semakin nyaman dan percaya menggunakan sistem pembayaran digital dalam aktivitas sehari-hari.
“Ini menunjukkan bahwa transaksi non-tunai sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, bukan hanya di kota besar, tapi juga mulai merata,” ujar Bambang, Kamis (29/1/2026).
Tak kalah mencolok, nilai nominal transaksi QRIS di Sumsel sepanjang 2025 menembus Rp3,4 triliun. Capaian ini tumbuh 117,89 persen secara tahunan (year on year) dibandingkan tahun 2024. Peningkatan tersebut mencerminkan semakin besarnya perputaran uang digital dalam perekonomian daerah.
Dari sisi pelaku usaha, ekosistem QRIS juga berkembang pesat. Tercatat, jumlah merchant pemilik kode QRIS mencapai 1,1 juta, mulai dari pelaku UMKM, pedagang pasar, hingga sektor jasa. Hal ini memperkuat peran QRIS sebagai tulang punggung sistem pembayaran ritel di Sumsel.
“Jumlah merchant dan pengguna sama-sama tumbuh. Ini tanda ekosistemnya sehat dan saling menguatkan,” jelas Bambang.
Dengan capaian yang jauh melampaui target 2025, Bank Indonesia memastikan target QRIS Sumsel tahun 2026 akan dipatok lebih tinggi. BI optimistis tren digitalisasi pembayaran akan terus berlanjut seiring meningkatnya literasi keuangan dan akses teknologi.
“Capaian ini sudah melampaui ekspektasi. Maka target tahun 2026 tentu akan disesuaikan lebih tinggi,” tegasnya.
Selain sistem pembayaran, Bambang juga menegaskan bahwa aliran uang rupiah di Sumsel tetap terjaga, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi daerah yang stabil. Digitalisasi dinilai bukan hanya mempermudah transaksi, tetapi juga memperkuat efisiensi dan transparansi ekonomi regional.
Transformasi ini menandai satu hal penting: Sumatera Selatan tak sekadar mengikuti tren digital nasional, tetapi mulai menjelma sebagai salah satu wilayah dengan akselerasi ekonomi digital yang solid di Indonesia.[THQ]

