RELUNG.ID – Dalam upaya mengatasi perubahan iklim dan degradasi lingkungan, program inovatif Evolving Participatory Information System for Nature-based Climate Solutions (Epistem) memperkenalkan teknologi pemetaan bentang lahan berbasis data terbuka di Sumsel.
Teknologi ini dirancang untuk mendukung langkah-langkah strategis sektor pertanian, kehutanan, dan penggunaan lahan lainnya (AFOLU) dalam mencegah deforestasi serta memulihkan lahan terdegradasi. Dengan fitur open source yang gratis dan mudah digunakan, Epistem menjadi solusi untuk menyediakan data berkualitas tinggi yang dapat diakses berbagai pihak—mulai dari pemerintah hingga masyarakat sipil.
Pada kegiatan Konsultasi Pengembangan Teknologi Pemetaan Bentang Lahan yang berlangsung di Palembang, Sekretaris Bappeda Sumsel, M. Adhie Martadhiwira, menegaskan bahwa inisiatif ini sejalan dengan prioritas pembangunan berkelanjutan daerah.
“Teknologi ini diharapkan dapat menjadi alat penting dalam mendukung kebijakan restorasi lahan yang lebih terarah dan efektif,” ujarnya.
Epistem dikembangkan dengan dukungan BMU-IKI serta kolaborasi lembaga internasional seperti IIASA, CIFOR-ICRAF Indonesia, dan WRI Indonesia. Peneliti Senior dari IIASA, Ping Yowargana,menyebut teknologi ini sebagai solusi untuk tantangan data di bidang restorasi.
“Epistem membuka akses terhadap data yang transparan dan efisien, mendorong langkah nyata dalam restorasi,” katanya.
Direktur CIFOR-ICRAF Indonesia, Andree Ekadinata menekankan pentingnya kerja sama multipihak.
“Teknologi hanyalah alat. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan sektor swasta adalah kunci keberhasilan,” tegasnya.
Selain memaparkan konsep teknologi, acara ini juga menjadi ajang menjaring masukan dari calon pengguna guna menyempurnakan fitur Epistem. Sebelumnya, konsultasi awal telah dilakukan untuk memperkenalkan inisiatif ini kepada pihak-pihak yang bergerak di bidang restorasi lahan.
Dengan pendekatan partisipatif dan adaptif, Epistem diharapkan mampu menjadi landasan penting bagi solusi iklim berbasis alam di Sumsel dan Indonesia. Inisiatif ini tidak hanya memberikan alat canggih, tetapi juga membangun transparansi dan efisiensi dalam melindungi lingkungan secara berkelanjutan. [THQ]

