RELUNG.ID — Sumatera Selatan masih harus menghadapi periode kering dalam beberapa pekan ke depan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau di wilayah Sumsel berlangsung pada Agustus hingga September 2026.
Kondisi tersebut menjadi tantangan di tengah meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dampaknya terhadap kualitas udara di sejumlah wilayah, termasuk Kota Palembang.
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, mengatakan periode Agustus dan September menjadi fase puncak musim kemarau di Sumsel.
“Puncak musim kemarau bulan Agustus dan September,” ujar Siswanto, Sabtu (29/8/2026).
Menurutnya, masyarakat masih perlu mewaspadai kondisi kering karena potensi pertumbuhan awan hujan belum optimal selama periode tersebut.
Peluang terbentuknya awan yang berpotensi menghasilkan hujan diperkirakan mulai meningkat setelah memasuki Oktober.
Namun, potensi tersebut baru diperkirakan lebih terlihat sekitar pertengahan bulan. “Baru akan ada potensi awan hujan diperkirakan bulan Oktober pertengahan,” katanya.
Dirinya pun mengimbau bagi wiilayah yang mengalami kualitas udara kategori Tidak Sehat dan visibility di bawah 1 kilometer agar mempertimbangkan penutupan sementara sekolah atau penghentian pembelajaran tatap muka hingga satu minggu ke depan, dengan evaluasi sesuai perkembangan kondisi.
Rumah sakit dan fasilitas kesehatan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“Masyarakat di wilayah terdampak disarankan tetap berada di rumah hingga satu minggu ke depan dan tidak beraktivitas di luar rumah apabila tidak diperlukan,”kata dia.
Kebijakan dan penyesuaian selanjutnya mengikuti arahan Pemerintah berdasarkan perkembangan informasi terkini dari BMKG.
“Seiring peningkatan Hotspot di Wilayah Sumatera Selatan dan saat ini pada fase Puncak Musim Kemarau Agustus – September Diprediksi Kondisi Kualitas Udara akan Terus Memburuk akibat Akumulasi timbulnya Asap dan Peningkatan Partikel Debu yang bercampur di udara,” katanya. (THQ)

