RELUNG.ID – Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) mulai memetakan potensi ekonomi baru di luar sektor pertanian yang selama ini menjadi tulang punggung daerah. Setelah konsisten mengokohkan diri sebagai salah satu lumbung pangan nasional melalui produksi padi, kini pemerintah provinsi mengalihkan sebagian fokus ke sektor perikanan yang dinilai memiliki prospek investasi besar dalam beberapa tahun mendatang.
Plt Sekretaris Dinas Penanaman Modal dan PTSP Sumsel, Eko Agusrianto, mengungkapkan bahwa tahun 2026 masih akan didominasi investasi di hilirisasi komoditas perkebunan dan pertambangan. Salah satu yang sudah pasti adalah proyek hilirisasi kelapa bekerja sama dengan organisasi nirlaba Indonesia–Jepang (IJBnet) bernilai awal Rp500 miliar.
“Prospek itu sudah ada dan cukup kuat, tetapi kami juga ingin membuka ruang baru bagi sektor lain yang potensinya belum tergarap maksimal,” kata Eko, Kamis (13/11/2025).
Menurutnya, sektor perikanan menjadi salah satu fokus baru yang akan didorong, terutama untuk pengembangan produk turunan bernilai tambah. Kabupaten Banyuasin diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan industri perikanan mengingat letak geografis dan infrastruktur pendukung yang lebih siap.
“Perikanan ini tidak hanya soal budidaya, tetapi bagaimana produk turunannya bisa masuk ke industri. Dan Banyuasin punya peluang besar untuk itu,” jelasnya.
Potensi tersebut diperkuat oleh data Dinas Kelautan dan Perikanan Sumsel. Pada 2024, produksi ikan di wilayah itu mencapai 296.000 ton. Ikan patin menjadi komoditas unggulan dengan produksi mencapai 98.000 ton.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKP Sumsel, Karina, menyebutkan bahwa ragam komoditas budidaya di Sumsel cukup luas, mulai dari bandeng, lele, nila, gurame, gabus, hingga udang vaname dan udang windu.
“Daerah dengan produksi terbesar masih didominasi Ogan Komering Ilir (82.088 ton), OKU Timur (56.720 ton), Palembang (54.533 ton), Banyuasin (45.658 ton), dan Musi Banyuasin (12.066 ton),” ujar Karina.[THQ]

