RELUNG.ID – Realisasi investasi di Sumatera Selatan menunjukkan tren positif pada awal tahun 2026. Hingga triwulan pertama, total investasi yang masuk ke provinsi ini telah mencapai Rp12,96 triliun, dengan penanaman modal dalam negeri (PMDN) menjadi penopang utama pertumbuhan.
Data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sumsel mencatat nilai investasi tersebut terdiri dari PMDN sebesar Rp10,43 triliun dan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp2,54 triliun.
Menariknya, di tengah perlambatan investasi asing, investor domestik justru menunjukkan kepercayaan yang semakin tinggi terhadap iklim usaha di Sumatera Selatan.
Kapokja Data dan Informasi DPMPTSP Sumsel, Eko Agusrianto, mengatakan investasi dalam negeri mengalami pertumbuhan 5,99 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“PMDN meningkat dari Rp9,84 triliun pada triwulan I 2025 menjadi Rp10,43 triliun pada periode yang sama tahun ini,” ujarnya, Rabu (3/6/2026).
Sebaliknya, investasi asing mengalami penurunan sebesar 34,54 persen secara tahunan. Meski demikian, total capaian investasi masih menunjukkan kinerja yang cukup baik karena ditopang kuat oleh sektor-sektor strategis yang didominasi investor domestik.
Sektor pertambangan menjadi kontributor terbesar PMDN dengan nilai investasi mencapai Rp2,7 triliun. Posisi berikutnya ditempati sektor tanaman pangan, perkebunan dan peternakan sebesar Rp2,07 triliun.
Kemudian disusul industri makanan yang menyumbang Rp1,62 triliun, industri kimia dan farmasi Rp1,47 triliun, serta sektor konstruksi sebesar Rp894 miliar.
Sementara itu, pada investasi asing, sektor industri kertas dan percetakan masih menjadi primadona dengan nilai investasi mencapai Rp1,2 triliun. Di bawahnya terdapat sektor listrik, gas dan air sebesar Rp407 miliar, sektor kehutanan Rp181 miliar, industri makanan Rp145 miliar, serta transportasi, pergudangan dan telekomunikasi sebesar Rp131 miliar.
Menurut Eko, meningkatnya investasi domestik tidak terlepas dari semakin baiknya pelayanan perizinan dan tingginya kepatuhan pelaku usaha dalam melaporkan kegiatan penanaman modal mereka.
Selain itu, pertumbuhan jumlah Nomor Induk Berusaha (NIB), khususnya dari sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), turut memberikan kontribusi terhadap peningkatan aktivitas investasi di daerah.
“Penerbitan NIB terus meningkat seiring perbaikan layanan perizinan dan pendampingan yang dilakukan pemerintah kepada pelaku usaha,” katanya.
Untuk menjaga tren positif tersebut, DPMPTSP Sumsel bersama pemerintah kabupaten dan kota terus melakukan pendampingan langsung kepada investor. Pendampingan dilakukan mulai dari proses perizinan hingga penyelesaian berbagai kendala yang dihadapi pelaku usaha di lapangan.
Pemerintah daerah juga secara rutin melakukan monitoring dan evaluasi terhadap proyek investasi yang sedang berjalan guna memastikan realisasi investasi sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
Pada tahun 2026, Sumatera Selatan memiliki target investasi sebesar Rp44,63 triliun sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Sementara target yang ditetapkan pemerintah pusat melalui BKPM mencapai Rp73,7 triliun.
Dengan capaian hampir Rp13 triliun hanya dalam tiga bulan pertama tahun ini, pemerintah daerah optimistis target tersebut dapat tercapai melalui percepatan pelayanan investasi, penguatan koordinasi lintas sektor, serta penciptaan iklim usaha yang semakin kondusif bagi investor.
“Kami terus memfasilitasi berbagai kebutuhan investor dan membantu menyelesaikan hambatan yang muncul agar investasi di Sumsel terus tumbuh dan memberikan dampak bagi perekonomian daerah,” tutup Eko.[THQ]

