RELUNG.ID – Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang menerima hibah sejumlah artefak dan benda bersejarah dari Komunitas Pecinta Antik Kebudayaan Sriwijaya (KOMPAKS)
Hibah artefak ini sebagai bagian dari upaya memperkuat penelitian dan pelestarian warisan budaya di Sumatera Selatan.
Artefak yang dihibahkan terdiri dari berbagai benda yang memiliki nilai sejarah, di antaranya perahu lesung, guci, tembikar, gerabah, serta sejumlah koleksi lainnya yang diduga berkaitan dengan perkembangan peradaban masa lampau di wilayah Sumatera Selatan.
Rektor UIN Raden Fatah, Muhammad Adil, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan KOMPAKS kepada kampus untuk menjadi tempat penyimpanan sekaligus pengembangan kajian terhadap berbagai temuan bersejarah tersebut.
“Kami sangat berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Artefak ini bukan hanya menjadi koleksi bersejarah, tetapi juga sumber pengetahuan yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan penelitian, pendidikan, dan pelestarian budaya,” katanya usai penyerahan artefak yang berlangsung di Gedung Rektorat UIN Raden Fatah Kampus Jakabaring, Selasa (2/6/2026)
Menurutnya, kerja sama antara UIN Raden Fatah dan KOMPAKS telah terjalin cukup lama, terutama melalui kolaborasi dengan Fakultas Adab dan Humaniora.
Karena itu, penyerahan artefak tersebut merupakan bagian dari hubungan yang telah dibangun secara berkelanjutan dalam mendukung kajian sejarah dan kebudayaan.
Rektor menegaskan bahwa keberadaan artefak di lingkungan kampus tidak hanya berfungsi sebagai benda koleksi, tetapi juga menjadi sarana untuk menggali dan mendokumentasikan nilai-nilai sejarah yang terkandung di dalamnya agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Sementara itu, Ketua KOMPAKS, Hermiyudi, menjelaskan bahwa salah satu artefak yang menarik perhatian adalah sebuah perahu lesung kuno yang ditemukan dalam kondisi terpendam dan masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Menurut Hermiyudi, perahu tersebut terbuat dari kayu rengas dan ditemukan pada kedalaman sekitar 15 meter dari permukaan tanah serta berada sekitar lima meter di bawah lapisan pasir.
Selain perahu lesung, pihaknya juga menyerahkan berbagai artefak lain seperti guci dan tembikar yang diharapkan dapat menjadi objek penelitian akademik guna mengungkap sejarah perdagangan, budaya, dan kehidupan masyarakat masa lampau di kawasan Sumatera Selatan.
“Kami berharap keberadaan museum dan tim peneliti di UIN Raden Fatah dapat membantu proses identifikasi serta penelitian terhadap berbagai temuan yang masih membutuhkan kajian ilmiah lebih mendalam,” tutupnya. (DSK)

