RELUNG.ID – Penghentian sementara aktivitas tambang PT Abadi Ogan Cemerlang (AOC) memicu kekhawatiran masyarakat Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan.
Warga khawatir, suplai batu bara ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mulut Tambang Sumbagsel 1 di Desa Keban Agung terganggu, yang berpotensi berdampak pada pasokan listrik di daerah mereka.
“Setahu kami, batu bara dari AOC itu yang memasok PLTU. Kalau berhenti seperti ini, kami takut listrik di kampung jadi padam,” kata Erhamudin, warga setempat, Rabu (28/5/2025).
Kabar penghentian operasional tambang AOC, menurutnya, ramai beredar lewat pemberitaan yang viral beberapa hari terakhir. Ia berharap persoalan ini segera diatasi agar pasokan energi tetap aman. “Perusahaan seharusnya lebih profesional dan taat aturan, supaya tidak berdampak ke publik,” ujarnya.
Menanggapi kekhawatiran itu, Manajer PLN ULP Baturaja, Fahmi Ramadhona, memastikan distribusi listrik ke masyarakat masih berjalan normal.
“Selama sepekan terakhir, suplai listrik aman-aman saja. Tidak ada gangguan,” kata Fahmi saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.
Ia menjelaskan, di wilayah OKU terdapat dua PLTU yang menyuplai daya ke PLN: PLTU PT Bakti Nugraha Yuda Energi di Desa Terusan dan PLTU Keban Agung. Keduanya, kata dia, masih beroperasi secara normal meski aktivitas tambang AOC sempat dihentikan.
“Pasokan dari PLTU Terusan berjalan lancar dengan total kapasitas 19 MW dari sistem 2×10 MW. Distribusinya langsung ke PLN,” jelasnya. Sementara itu, daya dari PLTU Keban Agung disalurkan melalui jaringan SUTT ke Gardu Induk (GI) Baturaja. “Sampai hari ini, tidak ada kendala tegangan dari sana,” tambah Fahmi.
Ketua Lembaga Penelitian Pengembangan Pembangunan dan Dampak Lingkungan (LP3L) Nusantara, Yunizir Djakfar, menilai penghentian tambang AOC tidak serta-merta memicu krisis energi.
“PLTU skala besar seperti Keban Agung dan Terusan tentu tak hanya bergantung pada satu pemasok batu bara. Mereka pasti punya cadangan dan mitra lain,” katanya.
Namun, Yunizir menyoroti persoalan lingkungan akibat aktivitas tambang AOC. Salah satunya adalah kendaraan pengangkut batu bara yang kerap meninggalkan jalanan dalam kondisi kotor dan licin, sehingga membahayakan pengendara.
“Ban truk seharusnya dibersihkan sebelum keluar dari area tambang, sesuai SOP dan dokumen AMDAL. Ini demi keselamatan pengguna jalan,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa pihaknya menerima banyak keluhan warga terkait keberadaan tambang tersebut. “Pemerintah daerah dan perusahaan harus sigap. Benahi internal dulu, baru lanjut operasi. Jangan tunggu masalah makin melebar,” tutupnya.
Tambang PT AOC Disorot Polda dan Inspektur Tambang
Sebelumnya, aktivitas tambang batu bara milik PT Abadi Ogan Cemerlang (AOC) di Desa Gunung Kuripan, Kecamatan Pengandonan, dilaporkan dihentikan oleh aparat berwenang.
Tim dari Polda Sumsel bersama Inspektur Tambang Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba), Kementerian ESDM, telah melakukan pemeriksaan langsung di lapangan sejak 21 Mei 2025.
Koordinator Inspektur Tambang Sumsel, Yusrizal, membenarkan adanya pemeriksaan tersebut. Namun ia menegaskan bahwa kunjungan itu bukan bagian dari tim terpadu, melainkan pendampingan atas permintaan Polda Sumsel.
Terkait isu dugaan pemalsuan dokumen asal barang—yakni batu bara berkalori rendah dari AOC diduga di-upgrade menggunakan batu bara ilegal dari Tanjung Enim—Yusrizal menekankan bahwa hal itu bukan dalam kewenangan pihaknya. “Itu ranah Polda, bukan tupoksi kami,” ujarnya.
Meski demikian, ia memastikan bahwa berdasarkan hasil verifikasi dan pengecekan lapangan, aktivitas AOC tidak berada di kawasan hutan produksi. “Peta terakhir per 27 Mei sudah kami pelajari, tidak ada aktivitas tambang di kawasan hutan,” ungkapnya.
Yusrizal juga menyatakan bahwa operasional tambang AOC kini telah berjalan kembali, setelah adanya pendelegasian Pejabat Sementara (PJS) Kepala Teknik Tambang. “Per 27 Mei, tambang AOC sudah kembali beraktivitas,” pungkasnya. (TIM)

