RELUNG.ID-Nasib Sriwijaya FC di Liga 2 musim ini kian mengkhawatirkan. Target realistis untuk sekadar bertahan agar tidak terdegradasi ke Liga 3 atau Liga Nusantara nyaris tak lagi masuk akal.
Dengan masih menyisakan 10 laga, klub kebanggaan Sumatera Selatan berjuluk Laskar Wong Kito itu justru terbenam di dasar klasemen tanpa sinyal kebangkitan. Alih-alih menunjukkan perlawanan, performa tim semakin menjauh dari standar klub dengan sejarah panjang di sepak bola nasional.
Kondisi kritis tersebut memicu alarm serius. Sisa pertandingan Sriwijaya FC dinilai rawan disalahgunakan dan berpotensi dimanfaatkan mafia serta bandar judi, yang dapat bermuara pada praktik match fixing. Risiko ini kian besar mengingat krisis keuangan yang melilit tim dan eksodus sejumlah pemain inti.
Pengamat sepak bola Sumatera Selatan, Deddy Pranata, menyebut kondisi Sriwijaya FC saat ini memenuhi indikator klasik tim yang rentan “melepas” pertandingan.
“Apa lagi yang mau dikejar? Selisih poin dengan Persekat Tegal sudah terlalu jauh. Tim kehilangan banyak pemain, dan di bursa transfer tengah musim justru tidak ada peningkatan kualitas yang signifikan,” ujarnya, Kamis (29/1/2026).
Pria yang akrab disapa Fran itu menegaskan, carut-marut manajemen dan keterbatasan finansial secara langsung memengaruhi motivasi serta profesionalitas tim. Menurutnya, potensi ke arah penjualan pertandingan bukan sekadar asumsi, melainkan berangkat dari rangkaian fakta di lapangan.
Fran menilai indikasi awal sudah terlihat sejak laga tandang melawan Persekat Tegal pada 10 Januari lalu. Kejanggalan itu berlanjut ketika Sriwijaya FC menelan kekalahan memalukan 7-0 dari Bekasi, hingga mencapai puncaknya pada laga derby panas kontra Sumsel United, minggu lalu.
“Dalam laga derby yang sarat gengsi, justru banyak pemain pelapis diturunkan. Posisi penjaga gawang dipercayakan kepada pemain berusia 20 tahun dengan minim pengalaman. Setelah kebobolan empat gol, baru dilakukan pergantian. Secara logika sepak bola, keputusan ini sulit dinalar,” katanya.
Tak berhenti di situ, Fran mengungkap informasi yang menurutnya paling krusial, yakni adanya dugaan penolakan manajemen terhadap investor yang siap menyelamatkan tim dari keterpurukan.
“Investor tersebut siap mendatangkan dua pemain asing dan pemain lokal berkualitas. Seluruh gaji dan biaya operasional tim hingga akhir musim ditanggung, termasuk gaji pemain yang ada sekarang. Jika tawaran seperti ini ditolak, publik wajar bertanya-tanya apakah ada agenda lain yang sedang dijaga,” tegasnya.
Sebagai pendiri sekaligus Ketua Umum pertama Singa Mania, Fran juga mengkritik keras sikap manajemen Sriwijaya FC yang dinilainya justru memainkan narasi playing victim di hadapan suporter.
Menurutnya, manajemen menggiring opini seolah-olah Sriwijaya FC menjadi korban karena sulit mendapatkan sponsor akibat kehadiran Sumsel United, alih-alih melakukan introspeksi atas kegagalan pengelolaan klub
.“Yang lebih memprihatinkan, elit dari tiga kelompok suporter justru mengikuti narasi tersebut. Semua pihak disalahkan—Gubernur, Wakil Gubernur, hingga pihak luar—padahal akar persoalannya adalah manajemen yang gagal dan tidak profesional,” tegasnya.
Sementara itu, Manajer Sriwijaya FC Eko Saputro membantah keras isu penolakan investor maupun dugaan jual pertandingan. Ia menegaskan pihak manajemen terbuka terhadap siapa pun yang ingin membantu kondisi keuangan tim.
“Belum ada investor, Pak. Kalau ada, kami terbuka. Tidak benar isu itu. Kalau memang ada investor, pasti Pak Anggoro sudah menyetujui. Silakan konfirmasi langsung ke Pak Anggoro,” ujarnya singkat.
Namun hingga berita ini diturunkan, Anggoro Prajesta, Direktur Olahraga PT Sriwijaya Optimis Mandiri, belum memberikan tanggapan meski telah dihubungi melalui pesan WhatsApp. [DNP]

