RELUNG.ID- Pemerintah Kota Palembang menilai penerapan sistem ganjil-genap belum efektif untuk mengatasi kemacetan lalu lintas. Pasalnya, hingga kini Kota Palembang masih dikepung puluhan titik rawan macet yang tersebar hampir di seluruh kecamatan.
Dinas Perhubungan (Dishub) Palembang mencatat terdapat lebih dari 30 titik rawan kemacetan yang sebagian besar bersifat situasional, terutama terjadi pada jam masuk dan pulang sekolah serta jam berangkat dan pulang kerja.
Kepala Bidang Pengawasan dan Pengendalian Operasional Dishub Palembang, AK Julyanzah, mengatakan kemacetan paling banyak terjadi di kawasan sekolah yang jam aktivitasnya hampir bersamaan.
“Kemacetan ini sifatnya situasional, terutama saat jam masuk dan pulang sekolah serta jam kerja. Karena waktunya hampir bersamaan, maka terjadilah kemacetan,” kata Julyanzah, Rabu (28/1/2026).
Sejumlah titik rawan kemacetan antara lain berada di Jalan Jenderal Sudirman, tepatnya di sekitar MIN/MTs Negeri 1 dan SMAN 3, Jalan Kolonel H. Burlian di kawasan sekolah Muhammadiyah, Jalan Residence Abdul Rozak (Kumbang), hingga beberapa ruas lainnya.
Menurut Julyanzah, kemacetan di titik-titik tersebut kerap diperparah oleh keberadaan fasilitas publik di sekitar sekolah, seperti pasar, rumah sakit, dan pusat perbelanjaan.
“Contohnya di Kolonel H. Burlian, sekolah Muhammadiyah berdekatan dengan Pasar KM 5 dan RS Bhayangkara. Ditambah kontur jalan yang menurun, sehingga kepadatan kendaraan sulit dihindari,” ujarnya.
Sementara di kawasan Kumbang, kemacetan terjadi karena kapasitas jalan yang tidak sebanding dengan volume kendaraan. Pada waktu tertentu, arus lalu lintas di kawasan tersebut juga bersifat situasional.
Dishub Palembang juga mencatat kemacetan cukup parah kerap terjadi di Jalan MP Mangkunegara, terutama pada jam sibuk. Kondisi ini diperburuk dengan banyaknya kendaraan bertonase besar yang melintas di jalur tersebut.
“Di sana merupakan jalur angkutan dan status jalannya jalan provinsi yang sebenarnya sudah tidak layak. Ditambah kendaraan yang mengantar anak sekolah dan berangkat kerja,” katanya.
Selain faktor infrastruktur dan volume kendaraan, perilaku pengendara juga dinilai turut memicu kemacetan hingga kecelakaan lalu lintas.
“Masih banyak pengendara yang tidak memperhatikan keselamatan berkendara atau safe riding, sehingga kecelakaan terkadang tidak bisa dihindari,” ujarnya.
Terkait upaya penanganan, Dishub Palembang mengaku terus bersinergi dengan kepolisian melalui penambahan petugas di lapangan, pengaturan arus lalu lintas, hingga rekayasa lalu lintas di titik-titik tertentu.
Namun, Julyanzah menegaskan tidak semua rekayasa lalu lintas dapat diterapkan. Beberapa skema justru berpotensi memindahkan kemacetan ke lokasi lain.
“Kalau dilakukan satu arah atau one way, hanya akan memindahkan titik macet ke tempat lain. Sudah ada beberapa rekayasa yang dicoba, ada yang berhasil dan ada juga yang gagal,” jelasnya.
Terkait rencana penerapan sistem ganjil-genap, Dishub Palembang menilai kebijakan tersebut belum memungkinkan diterapkan secara optimal, khususnya di kawasan padat aktivitas seperti Charitas.
“Memang ada rencana penerapan ganjil-genap di kawasan Charitas, tetapi itu cukup sulit. Banyak kendaraan online dan perkantoran di sana. Kendaraan online juga sulit dibatasi karena itu mata pencarian masyarakat,” pungkas Julyanzah.
Meski demikian, Dishub memastikan kemacetan umumnya hanya terjadi pada jam-jam sibuk. Di luar waktu tersebut, kondisi lalu lintas di Kota Palembang relatif kembali lengang.[DSK]

