RELUNG.ID – Polemik belanja fasilitas rumah dinas pimpinan DPRD Sumatera Selatan kembali menjadi sorotan. Setelah sebelumnya menuai kritik terkait pengadaan meja biliar hampir Rp500 juta, kini muncul sederet rencana belanja lain bernilai ratusan juta hingga miliaran rupiah.
Data dalam Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP) menunjukkan Sekretariat DPRD Sumsel merencanakan pengadaan berbagai fasilitas untuk rumah dinas pimpinan dewan. Mulai dari lampu gantung mewah, tirai jendela, alat gym, hingga meubelair bernilai miliaran rupiah.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah rencana pengadaan lampu gantung hias untuk rumah dinas Wakil Ketua I DPRD Sumsel, Raden Gempita. Nilai pagu anggarannya mencapai Rp604,6 juta dan direncanakan melalui metode e-purchasing di e-katalog LKPP dengan sumber dana APBD Sumsel.
Sorotan lain muncul dari pengadaan tirai jendela jenis roller blind di rumah dinas Wakil Ketua II DPRD Sumsel, Nopianto. Pengadaan ini tercatat dalam dua paket berbeda.
Paket pertama bernilai Rp319 juta dan paket kedua Rp315 juta. Jika digabungkan, total anggaran tirai untuk satu rumah dinas tersebut mencapai sekitar Rp634 juta.
Menariknya, perbedaan kedua paket hanya pada penulisan item, yakni “roller blind” dan “roller blinds”, namun keduanya diperuntukkan bagi lokasi yang sama.
Sebelumnya publik juga menyoroti pengadaan dua meja biliar untuk rumah dinas pimpinan DPRD Sumsel dengan total anggaran Rp486,9 juta. Rinciannya Rp151 juta untuk rumah dinas Ketua DPRD Sumsel dan Rp335,9 juta untuk rumah dinas Wakil Ketua III DPRD Sumsel.
Tak hanya itu, rumah dinas Wakil Ketua III DPRD Sumsel, Ilyas Panji Alam, juga direncanakan mendapat fasilitas alat gym senilai Rp395 juta. Selain itu terdapat pengadaan heat pump Rp776 juta serta meubelair senilai Rp2,3 miliar.
Sementara rumah dinas Wakil Ketua I DPRD Sumsel juga tercatat mendapat anggaran meubelair sekitar Rp2,3 miliar.
Aktivis antikorupsi Sumsel, Feri Kurniawan menilai rangkaian pengadaan tersebut wajar memicu pertanyaan publik.
“Ketika sebelumnya masyarakat mempertanyakan meja biliar hampir Rp500 juta, lalu muncul lagi lampu gantung Rp600 juta dan tirai ratusan juta, publik tentu bertanya soal prioritas anggaran,” kata Feri, Senin (9/3/2026).
Menurutnya, nilai pengadaan lampu gantung tersebut kemungkinan bukan fasilitas biasa.
“Lampu gantung lebih dari Rp600 juta kemungkinan jenis chandelier besar seperti yang biasa ada di hotel atau gedung mewah,” ujarnya.
Ia juga menyoroti adanya dua paket pengadaan tirai untuk rumah dinas yang sama.
“Kalau benar untuk lokasi yang sama dan periode yang sama, publik akan bertanya mengapa harus dua paket. Hal seperti ini perlu dijelaskan secara terbuka,” katanya.
Pengamat politik dan sosial, Ade Indra Chaniago, menilai polemik ini menunjukkan rendahnya sensitivitas pejabat terhadap kondisi ekonomi masyarakat.
“Di tengah narasi efisiensi anggaran, muncul belanja rumah dinas ratusan juta. Wajar jika publik mempertanyakan,” ujarnya.
Menurut Ade, pimpinan DPRD sebagai wakil rakyat seharusnya menunjukkan empati terhadap kondisi masyarakat.
“Jika ekonomi masyarakat belum sepenuhnya pulih, lalu muncul pengadaan fasilitas mewah, publik bisa menilai ini sebagai kurangnya sense of crisis,” katanya.
Sementara itu Kepala Bagian Humas dan Protokoler DPRD Sumatera Selatan, Hadiyanto, membenarkan bahwa data pengadaan tersebut tercantum dalam SiRUP. Namun ia menegaskan seluruhnya masih sebatas rencana.
“Iya, itu baru masuk dalam e-katalog LKPP dan masih berupa SiRUP. Pelaksanaannya sendiri belum dilakukan,” kata Hadiyanto.
Menurutnya, pengadaan tersebut direncanakan sebagai fasilitas penunjang aktivitas pimpinan dan anggota dewan.
“Alat-alat tersebut sebagai kebutuhan penunjang aktivitas anggota dewan. Tapi sekali lagi, saat ini masih sebatas rencana,” ujarnya. (TIM)

