Ade menuturkan, langkah politik Teddy hampir sama dengan apa yang dilakukan Nasrun Umar saat bergeser dari Pilwako Kota Palembang menuju Muara Enim, terlepas dari konstelasi yang mengiringinya. Bergesernya Teddy ke Muara Enim, juga bisa menjadi akibat dari kegagalannya membangun kekuatan politik di OKU.
“Bisa jadi dia menghindar dari area pertarungan Pilkada di Kabupaten OKU karena peluang kalah lebih besar kalau dibandingkan dengan peluang untuk memenangkan kontestasi di Muara Enim pada Pilkada serentak yang akan digelar pada 27 November yang akan datang,” katanya.
Namun, Ade menilai hal itu tidaklah mudah karena beberapa persoalan. Pertama, soal waktu yang tersisa dan kedua soal kendaraan politik yang nyaris sudah terbagi. Akan berbeda hasilnya, jika Teddy benar-benar sudah mengantongi restu dari tiga partai besar seperti Gerindra, Golkar, termasuk Demokrat yang jadi pemenang di periode pemilihan sebelumnya di Muara Enim.
“Nah kalau ditanya soal peluang menang, saya rasa agak berat karena yang lain sudah mulai sementara Teddy baru akan memulai melakukan kerja-kerja politik, tentunya akan lebih berat lagi kalau masuknya Teddy ke Muara Enim disambut dengan berbagai isu yang diantaranya diantaranya isu putra daerah,” kata dosen Stisipol Chandradimuka Palembang ini.

