RELUNG.ID – Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Palembang-Betung-Jambi masih menghadapi hambatan serius. Sekitar 35 kilometer trase jalan tol berada di kawasan hutan yang hingga kini belum dapat dibebaskan karena dipenuhi tanaman produktif dan bangunan milik masyarakat.
Kondisi tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam rapat koordinasi Ancaman, Gangguan, Hambatan, dan Tantangan (AGHT) pembangunan JTTS yang melibatkan Kejaksaan Agung, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, PT Hutama Karya, serta Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).
Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan kendala tersebut bukan persoalan hukum, melainkan persoalan administrasi dan penyelesaian tanam tumbuh yang harus segera dituntaskan agar target pembangunan jalan tol tidak kembali tertunda.
“Ada sekitar 35 kilometer yang masuk kawasan hutan. Di sana terdapat sawit, karet, bahkan bangunan. Ini harus segera diselesaikan agar target pembangunan tetap berjalan,” kata Herman Deru, Kamis (23/7/2026).
Sebagai langkah percepatan, Pemprov Sumsel akan membentuk tim khusus yang bertugas melakukan pendataan serta penyelesaian kompensasi kepada masyarakat yang menguasai lahan di kawasan hutan tersebut.
Penilaian nilai tanam tumbuh akan dilakukan melalui Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) agar proses pemberian biaya kerohiman berlangsung transparan dan sesuai ketentuan.
Deru mengungkapkan PT Hutama Karya telah memastikan kesiapan anggaran, baik untuk pekerjaan konstruksi maupun penyelesaian pembebasan lahan. Dengan dukungan pendanaan tersebut, pemerintah optimistis proses penyelesaian dapat dipercepat.
“Kabar baiknya, Hutama Karya sudah menyiapkan seluruh pendanaan. Tinggal bagaimana penyelesaian di lapangan bisa dipercepat,” ujarnya.
Pemerintah menargetkan proses penyelesaian lahan di kawasan hutan tersebut dapat dirampungkan dalam waktu sekitar tiga setengah bulan atau sebelum akhir 2026. Ratusan bidang lahan diperkirakan akan menerima biaya kerohiman sesuai hasil penilaian independen.
Menurut Deru, percepatan pembangunan ruas Tol Palembang-Betung menjadi kebutuhan mendesak karena akan menjadi solusi atas kemacetan kronis di Jalan Lintas Timur Sumatera yang selama ini menjadi jalur utama angkutan barang.
Selain mengurangi kemacetan, keberadaan jalan tol juga diharapkan mampu menekan kerusakan jalan nasional akibat tingginya lalu lintas kendaraan angkutan bertonase besar.
“Selama ini masyarakat mengeluhkan kemacetan dan kerusakan jalan. Jalan tol adalah solusi jangka panjang, sehingga semua pihak harus memiliki semangat yang sama untuk mempercepat penyelesaiannya,” tegas Deru.[THQ]

