RELUNG.ID – Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mencabut penangguhan pengiriman bom seberat 2.000 pon (907 kg) ke Israel yang sebelumnya diberlakukan oleh Joe Biden. Langkah ini diumumkan Trump pada Sabtu (24/1) di atas pesawat kepresidenan Air Force One dan menjadi sorotan dunia di tengah eskalasi konflik di Gaza.
“Kami melepasnya hari ini. Mereka telah membayarnya dan sudah menunggu terlalu lama,” ujar Trump singkat kepada wartawan, merujuk pada bom MK-84 yang akan segera dikirim ke Israel.
Sebanyak 1.800 unit bom MK-84 kini siap dimuat ke kapal untuk pengiriman dalam beberapa hari ke depan. Keputusan ini muncul setelah Biden, pada Mei 2024, menunda pengiriman senjata tersebut karena kekhawatiran akan dampaknya pada warga sipil, khususnya di Rafah, Gaza.
Keputusan Trump menuai kecaman dari kelompok hak asasi manusia dan komunitas internasional, yang menilai pengiriman senjata ini dapat memperparah krisis kemanusiaan di Gaza. Serangan Israel sejak 7 Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 47.000 orang, dengan hampir seluruh warga Gaza mengungsi dan menghadapi kelaparan.
Meski demikian, Trump menepis kekhawatiran tersebut dan menegaskan dukungan penuh AS terhadap Israel. Ketika ditanya alasan mencabut penangguhan, ia menjawab singkat, “Karena mereka membelinya.”
AS berdalih bahwa bantuan militernya bertujuan melawan kelompok-kelompok militan yang didukung Iran, seperti Hamas di Gaza, Hizbullah di Lebanon, dan Houthi di Yaman. Namun, kelompok HAM terus menyerukan embargo senjata terhadap Israel, meski tuntutan itu belum menghasilkan perubahan nyata.
Keputusan Trump datang hanya sepekan setelah gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang membawa harapan perdamaian. Dalam kesepakatan tersebut, beberapa sandera Israel dibebaskan dengan imbalan tahanan Palestina. Namun, Trump, sebelum pelantikannya pada 20 Januari, sudah memperingatkan akan ada “neraka yang harus dibayar” jika semua sandera tidak dilepaskan.
Israel saat ini menghadapi tuduhan genosida dan kejahatan perang atas serangannya di Gaza, meski pemerintah Israel membantah tuduhan tersebut. Langkah terbaru dari pemerintahan Trump ini semakin menggarisbawahi keberpihakan Washington terhadap Tel Aviv, yang terus memicu kritik global.
Dunia kini menunggu dampak keputusan ini terhadap dinamika konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah.[TRA]

